oleh

Gang RAPE Mengancam Kehidupan Anak di TOBASA, Pelaku Terancam Pidana Seumur Hidup

-HUKRIM, Nasional-123 views

5W1HIndonesia.id – Demi keadilan  dan kepastian hukum bagi korban,  Arist Merdeka Sirait, Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyatakan bahwa empat orang paruh baya pelaku kekerasan seksual bergerombol (GengRAPE) terhadap seorang anak berkebutuhan khusus (ABK) di desa Horsik,  Kecamatan Ajibata, Kabupaten Tobasa  patut dihukum dengan pidana penjara seumur hidup.

“Tidak ada kata damai terhadap kasus kekerasan seksual ini, karena tindakan empat orang pelaku kekerasan seksual terhadap anak secara berulang  tidak dapat ditoleransi oleh akal sehat manusia dan merupakan kejahatan atas kemanusiaan,” katanya melalui rilis yang diterima, Senin (20/1/2020).

Upaya damai yang sempat difasilitasi Kantor Desa Horsik, Kecamatan Ajibata dengan cara tawar menawar besarnya uang ganti rugi, telah melecehkan dan merendahkan bahkan penghinaan harkat dan  martabat kemanusiaan korban.

“Karena kekerasan seksual dengan cara GengRAPE yang dilakukan empat orang ini, selain perilaku biadab juga merupakan kejahatan atas kemanusiaan,” tegas Arist.

Lebih jauh Arist memberikan keterangannya melalui rilis yang disampaikan kepada sejumlah media dari kantornya Sabtu (17/1/2020) menegaskan bahwa Polres Tobasa tidak akan pernah ragu menjerat pelaku dengan ancaman hukuman seumur hidup dan bahkan meminta putusan hakim yang akan menangani perkara ini di hari mendatang dengan tambahan hukuman berupa “kastrasi” kebiri lewat suntik kimia kepada semua pelaku.

Komnas Perlindungan Anak akan terus berkordinasi dengan Polres Tobasa untuk melakukan langkah-langkah strategis dalam rangka memutus mata rantai keketasan seksual bergerombol di Tobasa.

“Biarlah atas perbuatannya empat.orang pelaku menghabiskan sisa hidupnya di dalam penjara,” pungkas Arist.

Kapolres Toba Samosir AKBP Agus Waluyo, S.iK, MH membenarkan bahwa empat orang pria berumur cabuli remaja usia 14 tahun sebut saja namanya Suci di desa Horsik  kecamatan Ajibata Kabupaten Toba Samosir.

Menurutnya, berdasarkan keterangan pelaku bahwa kejadian ini telah berlangsung sejak enam bulan lalu  terbukti dari kehamilan Suci yang memasuki bulan keenam dan keempat pelaku berhasil dibekuk pihak kepolisian dari tempat berbeda Sabtu (18/1/2020) sekira pukul 17.00 Wib.

Terkuaknya tabir kasus kekerasan seksual ini setelah keluarga korban mencurigai kondisi perut korban yang kian membesar. Ternyata benar,bahwa setelah dilakukan pemeriksaan terhadap kehamilan korban diperkirakan sudah memasuki hamil bulan keenam.

Korban diketahui sebagai anak yang Berkebutuhan khusus (ABK) dan hasil pendekatan yang dilakukan pihak keluarga pada korban akhirnya terbongkarlah  empat nama pelaku kekerasan bergerombol terhadap dirinya.

Keempat pelaku pencabulan ini masing-masing  A.m  Sitindaon (62), A. Sidabutar (58), S. Sidabutar (6) dan A Caniagi (39) warga dari desa Horsik, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Tobasa yang saat ini telah digelandang dan ditahan Polres Tobasa untuk dimintai keterangan dan pertanggungjawaban atas tindakannya.

Berdasarkan pengakuan Korban  yang pertama melakukan kekerasan seksual dengan dirinya adalah A. Sitindaon kemudian diikuti A.Sidabutar dan S.Sidabutar. sementara AM.Chaniago dijelaskan korban hanya meraba-raba korban.

Masih menurut keterangan Kapolres Tobasa melalui Kasat Reskrimum AKP Nelson Sipahutar sebelumnya kasus kekerasan seksual bergerombol ini ditangani pihak kepolisian setempat untuk dimediasi di kantor desa Horsik.

Para tersangka dihadirkan dan disepakati agar keempat pelaku membayar uang perdamaian sebesar Rp. 35.000.000.  Proses mediasi  yang direkam lewat video ini tersebar luas di media sosial dan menjadi salah satu barang bukti bagi kepolisian untuk mengembangkan kasus ini.

Dalam rekaman video berdurasi 6,57 menit tersebut terungkap bahwa pada saat berlangsung mediasi sempat terjadi tawar-menawar yang sampai akhirnya disepakati bahwa keempat pelaku harus membayar uang sebesar Rp. 35.000.000 untuk digunakan sebagai biaya persalinan dan perawatan pasca persalinan korban.

Dari informasi yang beredar di masyarakat, usai melakukan aksi bejatnya para pelaku memberikan uang kepada korban jumlahnya berbeda-beda mulai dari Rp10.000 hingga Rp25.000 setiap melampiaskan nafsu bejatnya dan memalukan itu disertai dengan ancaman kekerasan.

Kapolres Tobasa melalui keterangan Kasat Reskrim AKP Nelson Sipahutar menjelaskan bahwa pasca mendapatkan laporan dari keluarga korban pihaknya langsung turun ke TKP untuk melakukan penangkapan terhadap pelaku.

Keempat pelaku berhasil ditangkap dari tempat yang berbeda dan kemudian dibawa ke Mapolres Tobasa untuk mendapat pemeriksaan dari Unit PPA.

Sementara korban sedang ditangani dokter kandungan untuk dilakukan visum dan pemeriksaan terhadap kondisi korban baik fisik maupun psikis.

“Kita sudah koordinasi dengan dokter kandungan dan untuk sementara kehamilan korban diduga sudah  masuk usuia 6 bulan,” paparnya.

Belum lagi usai penanganan kasus kejahatan seksual yang diduga diakukan TP seorang kepala desa Sitoluama di Laguboti, Tobasa pada awal Desember 2019 terhadap seorang anak miskin putus sekolah berusia 14 tahun (pelaku sudah ditangkap dan berkas perkata sudah diserah ke Jaksa-red),  masyarakat desa Sigumpar, Tobasa juga diawal minggu pertama bulan Januari 2020 dirundung dengan peristiwa kejahatan seksual yang dilakukan dua orang pelaku AM dan CS terhadap seorang anak usia dibawah 14 tahun dirumah sahabatnya dan pelaku sudah ditangkap.

Kemudian di minggu ketiga bulan Januari ini terjadi penangkapan terhadap empat orang pelaku kejahatan seksual biadab terhadap anak berkebutuhan khusus hingga hamil enam bulan telah membuktikan bahwa Tobasa saat ini Darurat terhadap Kekerasan Seksual (child sexual abuse emergency)  bergerombol (gengRAPE) dan patut di waspadai dan segera dihentikan.

Atas kerja keras dan cepat Polres Tobasa membongkar kasus-kasus GengRAPE dinTobasa Komnas Perlindungan anak berharap  mendapat dukungan dari aparatus penegak hukum mulai dari Jaksa Penuntut Umum dan Hakim dalam menangani kasus kejahatan seksual juga dari aparat pemerintah lintas dinas dan Organidasi Perangkat Daerah (OPD),  Forkompimda,   tokoh agama, alim ulama, tokoh adat dan media, agar kasus-kasus kejahatan seksual dapat diminimalisir, dan jangan biarkan Polres Tobasa bekerja sendiri,  demikian imbuh Arist. (SA)

(Visited 15 times, 1 visits today)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed