Selain pemadaman darat dan udara, BPBD Lampung bersama BNPB dan BMKG sebelumnya melaksanakan operasi modifikasi cuaca pada 11–13 Oktober dengan tiga sorti penerbangan selama total 6 jam 16 menit dan penggunaan 3.000 kilogram natrium klorida (NaCl) sebagai bahan semai.
Operasi modifikasi cuaca dihentikan pada 18 Oktober karena tidak ditemukan awan potensial untuk penyemaian. Berdasarkan perkiraan BMKG yang disampaikan dalam konferensi pers, kondisi cuaca diperkirakan masih sangat kering dan panas sehingga kewaspadaan terhadap kebakaran perlu dipertahankan.
Pemerintah juga menangani kebakaran di sekitar ruas gerbang tol Menggala, Kabupaten Tulang Bawang, serta tempat pembuangan sampah di sekitar kilometer 132B Tol Lampung Tengah, tepatnya di Bandar Jaya Timur, Kecamatan Terbanggi Besar.
Kebakaran di Menggala yang terjadi pada 16 Oktober telah terkendali pada malam hari dan dilanjutkan dengan pendinginan untuk mencegah api menyala kembali. Sementara itu, kebakaran di lokasi pembuangan sampah berdampak pada area sekitar 1,5 hektare, tanpa laporan korban jiwa maupun bangunan terdampak.
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela mengoordinasikan dukungan personel dan armada pemadam dari sejumlah daerah untuk menangani kebakaran di Lampung Tengah. Bantuan yang dikerahkan mencakup dua unit mobil pemadam dari Bandar Lampung serta masing-masing satu unit dari Metro, Lampung Selatan, dan Pesawaran, ditambah dukungan ekskavator.
Penggunaan ekskavator diperlukan untuk mengurai dan membolak-balik tumpukan sampah agar api yang masih membara di bagian dalam dapat dipadamkan secara menyeluruh.
Dalam konferensi pers tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Lampung Riski Sofyan melaporkan bahwa hasil pengukuran kualitas udara di Bandar Lampung dan sekitarnya masih berada di bawah ambang batas baku mutu udara berdasarkan tujuh parameter Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang diperiksa.
Berdasarkan pembaruan pukul 09.00 WIB pada 19 Oktober 2026, kualitas udara dinyatakan masih dapat diterima untuk kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan. Meski demikian, masyarakat tetap diimbau menjaga lingkungan dan menerapkan langkah perlindungan kesehatan, terutama bagi kelompok sensitif.
Terkait Gunung Anak Krakatau, Kepala BPBD Provinsi Lampung Aswarodi melaporkan empat erupsi berdurasi pendek pada 18 Oktober 2026. Berdasarkan koordinasi dengan pos pengamatan dan relawan di Pulau Sebesi serta Pulau Tejang, abu vulkanik dilaporkan belum mencapai pulau-pulau terdekat dan kondisi gelombang masih normal.
Pemerintah tetap melakukan pemantauan perkembangan aktivitas gunung tersebut dan mengimbau masyarakat mengikuti informasi serta rekomendasi resmi dari otoritas terkait.
Gubernur Mirza meminta seluruh unsur pemerintah, aparat, relawan, dan masyarakat tetap siaga sampai musim hujan tiba. Ia juga menekankan pentingnya penyampaian informasi bencana secara berkala agar masyarakat memperoleh perkembangan yang akurat, sekaligus memastikan setiap kejadian ditangani secepat mungkin dengan mengutamakan keselamatan jiwa.
Melalui percepatan pemadaman, pemetaan titik panas, patroli kawasan hutan, dan penguatan koordinasi lintas daerah, Pemerintah Provinsi Lampung berharap kebakaran dapat dikendalikan lebih cepat dan kejadian berulang dapat ditekan.
Upaya tersebut diharapkan melindungi masyarakat dari dampak kebakaran dan asap, menjaga keselamatan pengguna jalan, serta mengurangi kerusakan lingkungan di Lampung. (Rls/SA)











