“Dengan Program Listrik Masuk Sawah, petani akan semakin mudah menjalankan kegiatan pertanian. Kami bersama PLN dan dinas pertanian akan memetakan wilayah yang membutuhkan akses listrik agar pompa dapat dimanfaatkan secara maksimal, terutama saat musim kemarau,” tutur Hermansyah.
General Manager PLN UID Lampung, Noer Soeratmoko, mengatakan listrik kini tidak hanya menjadi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga bagian penting dalam modernisasi pertanian.
Energi listrik dapat dimanfaatkan untuk mendukung sistem pengairan, pengolahan lahan, penggunaan alat dan mesin pertanian hingga proses pascapanen.
“Di lokasi PM-AAS Lampung Tengah, PLN menghadirkan jaringan listrik sepanjang satu kilometer untuk mengoperasikan pompa air. Dibandingkan penggunaan bahan bakar minyak, pompa listrik lebih hemat dan efisien serta dapat dioperasikan secara manual maupun otomatis sehingga memudahkan petani,” ujar Noer.
Menurut Noer, PLN siap berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan dinas pertanian untuk memetakan kebutuhan listrik di kawasan pertanian lainnya. Pengembangan jaringan akan dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan petani dan kondisi infrastruktur kelistrikan di setiap lokasi.
Sejauh ini, PLN UID Lampung telah mendukung elektrifikasi di 73 lokasi rehabilitasi sumur jaringan irigasi air tanah, 131 lokasi optimalisasi lahan nonrawa, 794 lokasi smart farming persawahan di Lampung Selatan, serta 154 lokasi Program Listrik Masuk Sawah di Pringsewu. Seluruh lokasi tersebut telah memperoleh pasokan listrik PLN.
Melalui kolaborasi dengan pemerintah, kelompok tani, dan pemangku kepentingan lainnya, pemanfaatan listrik di sektor pertanian diharapkan dapat memperluas penerapan teknologi, meningkatkan efisiensi usaha tani, dan memperkuat ketahanan pangan di Lampung. (Rls/SA)











