Jihan menilai, Sekolah Rakyat hadir sebagai bentuk komitmen bahwa kondisi ekonomi keluarga tidak boleh menentukan sejauh mana seorang anak dapat bermimpi.
Ia juga menuturkan pengalaman pribadinya sebagai anak dari keluarga sederhana. Menurutnya, dukungan dan pola pikir orang tua yang memberikan kebebasan kepada anak untuk bermimpi menjadi salah satu faktor penting dalam membangun keberanian untuk meraih cita-cita.
“Orang tua harus memberikan ruang kepada anak untuk bermimpi. Kondisi ekonomi tidak boleh menjadi batas bagi anak untuk menentukan masa depannya,” kata Jihan.
Ia mengapresiasi kebijakan pemerintah pusat dalam menghadirkan Sekolah Rakyat dengan dukungan fasilitas pendidikan yang memadai. Fasilitas tersebut, kata dia, harus dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung proses pembelajaran dan pengembangan karakter peserta didik.
Jihan berharap Sekolah Rakyat Terintegrasi Lampung Timur tidak hanya melahirkan peserta didik yang unggul secara akademik, tetapi juga generasi yang memiliki karakter kuat, sehat jasmani dan rohani, peduli terhadap sesama, serta tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya.
“Anak-anak kita tidak hanya harus dibekali dengan kemampuan akademik dan ilmu pengetahuan, tetapi juga karakter. Kami menitipkan anak-anak ini kepada seluruh tenaga pendidik agar dibentuk menjadi generasi yang sesuai dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu kita,” tuturnya.
Terkait pelaksanaan MPLS, Jihan mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar agenda awal tahun ajaran, melainkan tahap penting bagi peserta didik untuk mengenal lingkungan sekolah, membangun persahabatan, beradaptasi dengan suasana belajar yang baru, sekaligus mempersiapkan perjalanan panjang dalam meraih cita-cita.
Ia mengajak seluruh pihak, mulai dari pemerintah, tenaga pendidik, orang tua, hingga masyarakat, untuk bersama-sama memastikan tidak ada anak yang tertinggal dan tidak ada anak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan.
“Mari kita pastikan bersama bahwa tidak ada satu pun anak yang tertinggal dan tidak ada satu pun anak yang tidak dapat mengakses pendidikan. Ketika setiap anak mendapatkan kesempatan untuk belajar dan berkembang, sesungguhnya kita sedang membangun masa depan Lampung sekaligus ikut menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045,” tandasnya. (Rls/SA)











