Ia juga menyoroti potensi besar sektor pariwisata yang dapat menjadi pasar bagi produk UMKM. Pada 2025, jumlah wisatawan ke Lampung mencapai sekitar 25 juta orang dengan total perputaran uang diperkirakan mencapai Rp 50 triliun.
“Jangan sampai belanja wisatawan justru didominasi produk luar. Kita ingin produk UMKM lokal menjadi pilihan utama,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Bisnis PNM Kindaris mengatakan kegiatan PKU Akbar mengusung tema “AI untuk UMKM, Lebih Efisien dan Lebih Untung” sebagai upaya mendorong pelaku usaha beradaptasi dengan era digital.
Menurut Kindaris, PNM tidak hanya menyediakan pembiayaan, tetapi juga pelatihan dan pendampingan melalui tiga pilar utama, yakni modal finansial, intelektual, dan sosial.
“Selama lima tahun terakhir, PNM telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp346 triliun kepada lebih dari 22 juta nasabah di seluruh Indonesia,” ucap Kindaris.
Khusus di Lampung, PNM mencatat memiliki 466.000 nasabah aktif dengan total penyaluran pembiayaan mencapai Rp 17,8 triliun dalam lima tahun terakhir. Pada 2026, PNM menargetkan penyaluran pembiayaan sebesar Rp 3 triliun serta pelaksanaan 1.796 kegiatan pelatihan untuk 71.000 nasabah.
Kindaris menilai pemanfaatan AI dapat membantu pelaku UMKM dalam mengelola usaha secara lebih efisien, mulai dari pencatatan keuangan hingga strategi pemasaran.
“Dengan teknologi, UMKM bisa meningkatkan produktivitas, memahami pasar, dan pada akhirnya meningkatkan keuntungan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui pelatihan ini, Pemerintah Provinsi Lampung bersama PNM berharap tercipta UMKM yang lebih adaptif, inovatif, dan berdaya saing tinggi.
Penguatan kapasitas tersebut diyakini mampu meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, memperluas lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan. (Rls/SA)











