Gubernura Mirza juga mengaitkan penguatan perempuan dengan persoalan sosial dan pendidikan keluarga. Ia menyinggung tingginya angka perceraian di Lampung yang didominasi cerai gugat serta dampaknya terhadap kondisi anak, termasuk munculnya persoalan motivasi belajar setelah orangtua bercerai.
Karena itu pemberdayaan perempuan harus dilakukan secara menyeluruh, baik untuk meningkatkan produktivitas ekonomi maupun memperkuat peran perempuan dalam keluarga. Fatayat diharapkan dapat menjadi salah satu mitra pemerintah dalam menjalankan agenda tersebut hingga tingkat desa.
Dalam bidang ekonomi, Gubernur Mirza mendorong Fatayat ikut mengambil bagian dalam hilirisasi komoditas unggulan Lampung. Ia mengatakan Lampung memiliki banyak komoditas pertanian, tetapi baru sekitar 40 persen yang telah dihilirisasi di daerah.
“Kita ingin menghilirisasi semua komoditas yang ada di Provinsi Lampung. Kita ada banyak sekali komoditas pertanian, tapi baru 40 persen yang dihilirisasi,” kata Gubernur.
Ia mengatakan pemerintah akan mendorong dukungan terhadap UMKM yang berbasis komoditas lokal agar perempuan juga dapat mengambil peran dalam rantai nilai ekonomi tersebut.
Selain penguatan ekonomi, Gubenur Mirza meminta Fatayat membangun budaya organisasi yang terbuka, inklusif, kolaboratif, dan adaptif terhadap perubahan. Menurut dia, inovasi perlu berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan tradisi dan kultur yang menjadi kekuatan masyarakat.
Ia menilai budaya dan kultur memiliki peran penting dalam menjaga karakter masyarakat di tengah perkembangan media sosial dan perubahan zaman yang semakin cepat.
“Karena itu, organisasi kemasyarakatan seperti NU dan badan otonomnya dinilai dapat menjadi bagian dari benteng sosial sekaligus ruang pembentukan karakter,” tuturnya.
Gubernut Mirza berharap Fatayat NU dapat menjadi role model bagi perempuan di Lampung, terutama melalui kader-kader yang berada di tingkat kecamatan dan desa.
Para kader tersebut diharapkan menjadi tempat perempuan lain belajar, memperoleh pendampingan, mengembangkan kemampuan ekonomi, serta mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi.
“Saya rasa, di Fatayat sudah teruji kualitas kadernya. Tadi kita melahirkan pemimpin-pemimpin,” ujar Mirza. Ia menyampaikan terima kasih kepada Fatayat NU yang selama ini telah menjadi mitra strategis pemerintah dan ikut membentuk kader untuk membawa kemajuan bagi Lampung.
Sementara itu, Plt Ketua PP Fatayat NU Dewi Winarti mengatakan kepengurusan baru memiliki tantangan untuk meningkatkan kaderisasi, program, dan pelayanan organisasi selama masa khidmat 2026-2031.
Ia berharap struktur lembaga yang telah dibentuk dapat bergerak memberikan layanan nyata kepada masyarakat Lampung, termasuk dalam perlindungan perempuan dan anak serta penguatan ekonomi.
Ketua PWNU Lampung Puji Rahardjo mengatakan pelantikan tersebut menunjukkan regenerasi NU di Lampung, khususnya di kalangan perempuan, berjalan dengan baik. Ia berharap Fatayat terus bersinergi dengan badan otonom NU lainnya untuk memberikan pengabdian bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Dengan penguatan kaderisasi, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan kolaborasi hingga tingkat desa, Pemerintah Provinsi Lampung berharap perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi penggerak pembangunan.
Langkah tersebut diharapkan memperkuat produktivitas masyarakat, kualitas keluarga, serta menciptakan SDM Lampung yang lebih siap menghadapi bonus demografi dan persaingan tenaga kerja di masa mendatang. (Rls/SA)











