Medan tersebut ialah era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0. Era ini mampu membuat kita kehilangan jati diri, karena terlena akan hal yang dibawa dalam arus modernisasi. Tak hanya itu, di era teknologi digital ini tantangan yang dihadapi semakin kompleks.
“Kita ketahui bersama, Indonesia memiliki bonus demografi yang akan mencapai puncak di Tahun 2030-an, hal tersebut menjadi peluang besar bagi kita untuk meraih Indonesia Emas 2045. Indonesia memiliki peluang besar untuk meraih Indonesia Emas 2045, serta meraih posisi menjadi negara 5 besar kekuatan ekonomi dunia,” ungkapnya.
Strategi pertama untuk memanfaatkan kesempatan ini adalah mempersiapkan Sumber Daya Manusia Indonesia. Di saat yang sama, SDM yang telah dipersiapkan harus mendapat lapangan kerja yang bisa menghasilkan produktivitas nasional.
“Kita harus mengembangkan sektor ekonomi baru yang membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya yang memberikan nilai tambah sebesar-besarnya,” katanya.
“Maka, Indonesia harus menjadi negara yang juga mampu mengolah sumber dayanya, mampu memberikan nilai tambah, dan menyejahterakan rakyatnya,” sambungnya.
Hal tersebut bisa dilakukan melalui hilirisasi. Hilirisasi yang ingin dilakukan adalah hilirisasi yang melakukan transfer teknologi, yang manfaatkan sumber energi baru dan terbarukan, serta meminimalisasi dampak lingkungan, sebagaimana kriteria dalam pengelolaan pertumbuhan perekonomian berkelanjutan yaitu ESG: Environment (lingkungan), Social (sosial), Governance (tata kelola).
Hilirisasi ini juga harus mengoptimalkan kandungan lokal, bermitra dengan UMKM, petani, dan nelayan, sehingga manfaatnya terasa langsung bagi rakyat kecil.
Provinsi Lampung dalam hal ini akan terus berkontribusi untuk meraih Indonesia Emas 2045. Provinsi Lampung menjadi provinsi yang dianugerahi dengan sumber kekayaan alam yang berlimpah.
“Salah satu karunia dari Allah SWT yang harus kita syukuri ialah, Lampung memiliki komoditas unggulan pada sektor pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan serta kawasan sentra produksi udang. Lampung sebagai lumbung pangan yang tercermin dari produksi dan kontribusi pertanian yang termasuk dalam 5 besar nasional (padi, ubi kayu, nanas, jagung, kopi robusta, lada, kakao, tebu, pisang dan sebagainya),” ujar Gubernur Arinal.
“Kita perlu melakukan hilirisasi untuk komoditas unggulan yang dimiliki Provinsi Lampung, agar memiliki nilai tambah, bukan hanya ekspor bahan mentah. Hilirisasi ini harus dilakukan untuk melakukan lompatan pertumbuhan perekonomian di Provinsi Lampung,” tambahnya.
Tak hanya itu, Lampung juga memiliki potensi panas bumi untuk sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 1.243 Mega Watt yang tersebar di 13 titik dan baru termanfaatkan sebesar 220 Mega Watt yaitu di PLTP Ulu Belu Tanggamus.











