“Semoga hasilnya yang luar biasa melimpah dan dijadikan sebagai ikon melon sultan dari Lampung dan ke depan mudah-mudahan akan dibuat tugu melon sultan,” katanya.
Samsudin menuturkan program sekolah melon ini tidak hanya akan memperkaya pengetahuan dan keterampilan peserta dalam bidang pertanian, tetapi juga mempersiapkan para santri yang merupakan generasi muda untuk menghadapi tantangan dan peluang di era digital.
Dia meminta teknologi IoT ini dijadikan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas pertanian melon di Provinsi Lampung
“Saya berharap hasil panen melon ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi kita semua” ujarnya.
Samsudin mengapresiasi upaya Pondok Pesantren dan semua mitra yang telah berkolaborasi untuk menghadirkan teknologi canggih ini kepada pemuda dan komunitas santri.
“Khususnya terima kasih kepada Bank Indonesia Provinsi Lampung yang sudah mendampingi di pondok pesantren dan tentunya Bank Indonesia ini selalu berupaya untuk dekat dengan para petani dan UMKM,” katanya.
Sementara itu, Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kemenpora Asrorun Ni’am Sholeh menyatakan salah satu penopang kemandirian ekonomi Indonesia adalah keaktifan dan juga kemandirian anak-anak muda di dalam aktivitas kewirausahaan dan aktivitas ekonomi.
“Karena itu kegiatan hari ini sekolah melon untuk milenial menjadi bagian dari kontribusi masyarakat terutama pesantren di dalam mengakselerasi perwujudan kemandirian kita sebagai bangsa,” ujar Asrorun.











