“Yang tadinya harus bawa mobil 10 ton atau 20 ton, karena tidak perlu bawa air, jadi cuma bawa 5 ton atau 7 ton. Jadi mobil yang lewat desa lebih ringan dan lebih jarang,” ungkap Gubernur.
Menurutnya, efisiensi tersebut pada akhirnya juga dapat membantu menjaga kondisi jalan desa. Pemanfaatan bed dryer juga diarahkan untuk mendorong petani tidak berhenti pada penjualan gabah.
Setelah dikeringkan, hasil pertanian dapat diproses lebih lanjut menjadi beras, sementara produk samping seperti bekatul dan sekam dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan lain, termasuk bahan pakan dan pupuk.
“Selain itu bisa langsung dilakukan hilirisasi. Yang tadinya cuma jual gabah karena sudah kering bisa dijadikan beras, dapat katul, dapat sekam,” ujar Gubernur.
Ia menyebut pengembangan tersebut sebagai bagian dari program Desaku Maju untuk mendorong hilirisasi agroindustri di tingkat desa.
Pengelola pabrik terpadu Wargito menjelaskan, pengeringan dan pengolahan hasil panen akan menjadi satu rangkaian. Setelah gabah dikeringkan oleh kelompok tani, gabah tersebut dapat diproses lebih lanjut menjadi beras sehingga nilai tambahnya tetap berada di desa.
Bagi petani, manfaat ekonomi dari peningkatan kualitas tersebut menjadi perhatian utama. Saat berdialog dengan gubernur, petani menyebut harga gabah kering giling saat ini sekitar Rp9.000 per kilogram, sementara Gubernur Mirza mendorong agar peningkatan kualitas dan pengolahan hasil dapat semakin memperbesar nilai ekonomi yang diterima petani.
Gubernur Mirza meminta pengelolaan alat tidak berhenti pada penyediaan mesin, tetapi dilanjutkan dengan pemanfaatan secara optimal dan pengembangan jasa pengeringan bagi petani sekitar. Dengan demikian, petani yang sebelumnya hanya mampu menjual gabah basah dapat memiliki pilihan untuk menjual gabah dalam kondisi kering dengan kualitas yang lebih baik.
Gubernur juga mendorong desa menyiapkan gudang atau lumbung pangan sebagai bagian dari penguatan rantai produksi. Langkah tersebut diharapkan membuat hasil pertanian dapat disimpan, diolah, dan dipasarkan secara lebih terencana, sekaligus membuka ruang usaha baru bagi petani dan generasi muda di desa.
Menurut Gubernur, penguatan dari hulu hingga hilir akan membuat manfaat bantuan alat pertanian tidak berhenti pada percepatan produksi. Petani diharapkan memperoleh nilai tambah dari pengeringan, pengolahan, penyimpanan, hingga pemasaran, sehingga pendapatan meningkat dan aktivitas ekonomi baru tumbuh di desa.
Dengan pemanfaatan bed dryer berkapasitas 20 ton tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung berharap petani Sumber Agung semakin mampu menjaga kualitas hasil panen, mengurangi ketergantungan pada cuaca, memperluas pasar, dan meningkatkan nilai jual gabah.
Dalam jangka lebih panjang, pengolahan hasil pertanian di tingkat desa diharapkan membuat lebih banyak nilai ekonomi tetap berputar di Lampung dan langsung dirasakan masyarakat. (Rls/SA)











