Dengan beberapa kategori, yakni, foto-foto tentang orang tokoh dalam suatu berita. Foto human interest atau kehidupan sehari-hari, misal foto tukang sol sepatu, foto pengemis renta serta Portrait, yakni yang menampilkan wajah close up seperti foto KTP, foto profile Facebook.
“Foto-foto tersebut tidak bisa menampilkan gambaran cerita yang dibutuhkan dengan kaidah 5W1H. Sehingga dengan adanya caption itu penyempurnaan dari foto jurnalistik,” terangnya.
Produk foto jurnalistik bisa saja diprotret mengunakan kamera, kata dia, namun tidak semua kategori dapat dipenuhi. Salah satu contohnya foto sport, foto liputan malam, dan foto yang jaraknya jauh.
“Momen tersebut ini tidak ada kemungkinan bisa dihasilkan dengan baik oleh produk kamera ponsel. Itu merupakan bagian kelemahan foto mengunakan ponsel,” paparnya.
Namun, Perdi menyebutkan, ada kelebihan dari kamera ponsel yakni lebih cepat dalam melaporkan, lebih praktis, dan bisa langsung di posting dalam media online.
“Sekarang banyak teman-teman fotografi mengunakan ponsel, karena memang kemampuan kameranya sudah sangat bagus saat ini. Namun hasilnya tetap tidak dapat menyaingi kamera,” tandas dia. (Rls/SA)











