5W1HIndonesia.id, Entertaiment – Serial Netflix Squid Game yang di sutradara oleh Hwang Dong Hyuk sukses memikat para penikmat film dan saat ini ramai diperbincangkan.
Bahkan, untuk serial Squid Game ini banyak penonton yang menunggu adanya season 2 untuk kelanjutannya.
Namun, sang sutradara Hwang Dong Hyuk, dalam sebuah wawancara eksklusif dengan Variety, merinci proses melelahkan yang dilakukan untuk membuat serial ini menjadi kenyataan.
Seperti diketahui, Hwang sering bekerja sendiri di proyek-proyeknya, seperti film 2011 Silenced, dan dia melakukan hal yang sama untuk Squid Game, bertindak sebagai penulis dan sutradara.
Menerjemahkan cerita yang dia buat menjadi kenyataan, bagi dia, membuktikan tugas yang melelahkan yang tidak ingin dia ulangi.
Menurut Hwang, butuh waktu hampir enam bulan untuk menyelesaikan dua episode pertama dan kelelahan karena mengelola acara itu sendiri telah membuatnya berhenti dari serial tersebut.
Hwang menuturkan tidak akan ada rencana untuk melanjutkan Squid Game season 2 lantaran cukup melelahkan baginya.
“Saya tidak memiliki rencana yang dikembangkan dengan baik untuk ‘Squid Game 2’. Cukup melelahkan hanya dengan memikirkannya,” kata Hwang Dong Hyuk, dikutip dari Collider pada Rabu (29/9/2021).
Akan tetapi, dirinya akan bersedia jika tidak melakukannya sendirian dan ditemani oleh beberapa sutradara yang sudah berpengalaman.
“Tetapi jika saya melakukannya, saya pasti tidak akan melakukannya sendiri. Saya akan mempertimbangkan untuk menggunakan ruang penulis dan menginginkan beberapa sutradara berpengalaman,” papar Hwang Dong Hyuk.
Selain itu, Hwang mengatakan jika Squid Game sudah terencana sejak 2008. Hampir 13 tahun perencanaan dan produksi untuk Squid Game.
Awalnya berencana untuk menjadi film fitur, dengan inspirasi dari komik seperti Battle Royale dan Liar’s Game, ia bertujuan untuk membuat ceritanya lebih relatable dan sederhana dengan membayangkan dirinya dalam sebuah skenario di mana sebuah permainan sederhana dapat menentukan hidup dan mati.
“Saya ingin menulis sebuah cerita yang merupakan alegori atau fabel tentang masyarakat kapitalis modern, sesuatu yang menggambarkan persaingan ekstrem, agak seperti persaingan hidup yang ekstrem. Tapi saya ingin menggunakan jenis karakter yang kita semua temui di dunia nyata,” ucap Hwang.
“Sebagai permainan bertahan hidup, ini adalah hiburan dan drama manusia. Permainan yang digambarkan sangat sederhana dan mudah dimengerti. Itu memungkinkan pemirsa untuk fokus pada karakter, daripada terganggu dengan mencoba menafsirkan aturan,” lanjutnya. (SA)






