Deflasi di dua kabupaten tersebut menunjukkan keberhasilan sektor pertanian dalam menyediakan pasokan pangan yang melimpah sehingga harga beberapa komoditas strategis turun.
Kondisi ini menjadi contoh bahwa penguatan produksi lokal mampu menjadi bantalan terhadap gejolak harga di tingkat provinsi.
Keberhasilan Lampung menekan inflasi di bawah rata-rata nasional juga tidak lepas dari strategi pembangunan infrastruktur pendukung pertanian, seperti peningkatan akses jalan produksi dan fasilitas penyimpanan hasil panen. Langkah ini membantu petani menjaga kualitas produk sekaligus menekan biaya logistik.
Selain berdampak pada stabilitas harga, penguatan sektor pertanian turut meningkatkan daya saing produk lokal di pasar. Beras, cabai, dan bawang merah Lampung mampu mengisi kebutuhan daerah sendiri sekaligus menyuplai wilayah lain di Sumatra. Hal ini menandai kemandirian pangan daerah yang semakin kokoh.
Kondisi inflasi yang terkendali menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah di kuartal akhir 2025. Daya beli masyarakat cenderung terjaga karena harga pangan tidak melonjak tajam, sementara sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi daerah tetap produktif.
Pemerintah Provinsi Lampung menargetkan pengendalian inflasi akan terus dipertahankan melalui penguatan stok pangan dan hilirisasi hasil pertanian. Langkah ini sejalan dengan upaya meningkatkan pendapatan petani sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Ke depan, keberhasilan menjaga inflasi rendah diharapkan dapat menarik minat investasi di sektor pertanian, logistik, dan industri pengolahan. Dengan fondasi harga yang stabil dan pasokan pangan terjamin, Lampung optimistis dapat memperkuat posisi sebagai lumbung pangan nasional sekaligus motor pertumbuhan ekonomi regional. (Rls/SA)











