Sementara itu, harga cabai rawit turun signifikan pada minggu kedua Agustus sebesar 16,76% dibanding Juli. Cabai merah juga turun tipis 0,03%. Sebaliknya, bawang merah naik tajam 14,57%, telur ayam ras naik 0,47%, dan daging ayam ras turun 0,33%.
Dari sisi ketersediaan, Kepala Divisi Perencanaan Pelayanan Publik Perum Bulog, Rini Andrida, melaporkan realisasi penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) periode Juli–Desember 2025 mencapai 38,8 juta ton.
Penyaluran minyak goreng Minyakita juga sudah mencapai 93% per 15 Agustus. Namun, Sekjen Kemendagri Tomsi Tohir mengingatkan agar distribusi beras SPHP lebih merata ke pasar tradisional, karena harga di pasar tersebut masih relatif tinggi.
Pada kesempatan yang sama, Staf Ahli Menteri Bidang Investasi Pertanian, Suwandi, menyoroti harga jagung yang masih berfluktuasi akibat disparitas distribusi antara produsen dan peternak.
Lampung tercatat sebagai salah satu dari lima daerah dengan luas panen jagung terbesar nasional, yakni 31.738 hektare pada Agustus 2025. Harga rata-rata jagung kering panen per 17 Agustus mencapai Rp 5.249 per kilogram.
Selain isu pangan, Dirjen Perumahan Pedesaan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman, Dr. Imran, juga menyampaikan progres program pembangunan 3 juta rumah.
Ia mengapresiasi pencapaian pemerintah daerah dalam menerbitkan 100% Perkada PBG dan BPHTB.
Kabupaten Lampung Selatan masuk peringkat kedua nasional dalam penerbitan dokumen PBG di wilayah pesisir (1.760 dokumen), sedangkan Kota Bandar Lampung menempati urutan ke-14 untuk wilayah perkotaan (505 dokumen).
Imran juga memberikan sejumlah rekomendasi kepada pemerintah daerah, antara lain memperkuat layanan pengaduan konsumen perumahan, mengalokasikan bantuan rumah layak huni dalam APBD maupun APBDes, serta membebaskan bea PBG dan BPHTB bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). (Rls/SA)











