5W1HINDONESIA.ID, ZONA MUSLIM – Riya dalam Islam adalah hal yang dilarang karena bermaksud pamer dan mencari perhatian. Sebab, riya berarti memperlihatkan sekaligus memperbagus suatu amal ibadah dengan tujuan mendapatkan pujian dari orang lain.
Ya, riya termasuk amal ibadah yang diniatkan selain kepada Allah SWT sehingga tergolong sebagai perbuatan tercela. Nah, agar lebih paham mengenai hukum riya dan jenis-jenisnya, simak ulasan berikut.
Bagaimana Hukum Riya dalam Islam?
Perbuatan riya merupakan syirik kecil yang dilarang oleh Allah SWT dan hukumnya haram. Jika dilakukan, maka riya dapat menghapus amal baik seseorang dan menyebabkan munculnya penyakit hati.
Dalam QS. Surah Al-Baqarah ayat 264 yang berbunyi, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia”.
Dari Mahmud bin Labid, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul asghar (syirik kecil), maka para sahabat bertanya, apa yang dimaksud asy syirkul asghar? Beliau menjawab: Ar Riya’”.
Hal ini berarti, ketika seseorang melakukan suatu amalan karena Allah SWT, maka akan mendapatkan pahala sesuai yang diniatkan. Sementara, orang yang melaksanakan amal ibadah tanpa dilandasi niat karena Allah SWT, pahala pun tidak didapatkan.
Jenis-jenis Riya yang Perlu Diketahui
Riya sangat berbahaya karena merupakan salah satu dari penyakit hati dan dapat menjadi seseorang masuk ke dalam golongan orang munafik. Menurut ajaran agama Islam, riya sendiri terbagi menjadi dua jenis, antara lain:
1. Riya dalam niat
Riya dalam niat maksudnya ketika seseorang akan melakukan sebuah amal, namun dalam hatinya sudah ada keinginan atau tujuan selain mencari ridha Allah SWT. Padahal, diterima atau tidaknya amal ibadah yang dilakukan tergantung niat.
Sebuah hadis dijelaskan, yakni “Aku mendengar Umar bin Khattab berkata di atas mimbar; ‘Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda; ‘Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang memperoleh sesuai apa yang ia niatkan’”. (HR. Bukhari Muslim)
2. Riya dalam perbuatan
Jenis yang kedua adalah riya dalam perbuatan, di mana amal ibadah dilakukan agar mendapatkan perhatian dari orang lain. Salah satu sifat yang berkaitan dengan riya’ adalah sum’ah, yakni suka memperdengarkan atau menceritakan kebaikan-kebaikan serta keberhasilan kepada orang lain dengan tujuan mendapat pujian.





