“Kita dorong peningkatan indeks pemberdayaan gender, kita perluas akses pendidikan bagi anak perempuan, dan kita dorong keterlibatan perempuan dalam politik, ekonomi, dan kepemimpinan,” ujarnya.
Melalui Peringatan Hari Kartini, Jihan meminta tidak sekadar mengenang seorang tokoh tetapi menyalakan kembali bara semangat perjuangan sebuah api yang pernah dinyalakan oleh seorang perempuan luar biasa Raden Ajeng Kartini.
“Ia bukan hanya simbol emansipasi, tetapi juga simbol keberanian untuk bermimpi di zaman ketika perempuan tak dianggap punya hak untuk bermimpi. Kartini adalah sosok yang luar biasa,” paparnya.
Jihan mengatakan Kartini bukan hanya nama dalam buku sejarah. Ia hidup dalam semangat perempuan-perempuan Lampung yang tak kenal lelah mengabdi dan berjuang demi keluarga, masyarakat, dan masa depan.
Jihan menyebutkan Kartini ada dalam sosok Weni Irawati, bidan di pelosok Way Kanan yang menempuh berpuluh kilometer demi menyelamatkan ibu dan bayi.
Kartini juga ada dalam diri Nur Halimah, petani singkong di Pringsewu yang menyekolahkan anaknya hingga sarjana dengan hasil keringatnya sendiri.
“Kartini juga ada di ruang-ruang rapat, di bangku kuliah, di meja redaksi, di laboratorium, di pasar, di dapur, di sawah di mana pun perempuan berdiri dengan kepala tegak dan hati yang menyala. Kartini ada dalam diri kita masing-masing,” katanya. (Rls/SA)











