“Leher itu rapuh dan terbuka, banyak struktur berhimpit ke dalam ruang yang sangat kecil. Rata-rata manusia memiliki gerakan leher terbatas yang dilakukan setiap hari, jadi kretek leher bisa membuat gerakan atau otot melebihi batas normal sehingga meregangkan ligamen dan tendon,” jelas Taylor dikutip dari Kumparan.
Dia menambahkan, saat leher diputar ada potensi arteri ini robek, sesuatu yang akan menyebabkan kehilangan darah signifikan.
“Jika ini adalah robekan yang signifikan, terutama pada mereka yang berusia di bawah 45 tahun, ini mengarah pada peningkatan risiko stroke,” katanya.
“Ini juga berisiko, karena orang tanpa pelatihan yang tepat dapat membuat gerakan berlebihan saat meregangkan leher. Leher tidak dirancang untuk menahan gerakan cepat dan ekstrem,” imbuh dia. (FO/SA)









