oleh

Bantu Ukraina, China Jadi Mediator Hadapi Rusia

5W1HIndonesia.id, Internasional – China menjadi salah satu negara yang turut bereaksi atas invansi Rusia ke Ukraina.

Dikabarkan jika Menteri Luar Negeri Ukraina memohon bantuan China untuk menemukan solusi terbaik bagi dua negara tersebut.

China pun telah mengisyaratkan kesediaannya untuk memainkan peran mediator dalam konflik antara Rusia dan Ukraina saat perang memasuki hari keenam.

Dalam panggilan telepon, Menteri Luar Negeri Ukraina, Dmytro Kuleba menghubungi Menteri Luar Negeri China, Wang Yi.

Dilansir dari laman pikiran-rakyat.com,Pada panggilan yang terjadi di hari Selasa (1/3/2022) itu, perwakilan China itu menyesalkan pecahnya konflik dan sangat prihatin dengan kondisi warga sipil.

Salah satu media lokal China mengatakan jika Dymitro Kuleba meminta China menggunakan pengaruhnya untuk membantu menengahi konflik mereka dengan Rusia.

Diungkapkan jika Dymtro Kuleba meminta bantuan kepada China dalam menemukan solusi diplomatik.

Kementerian luar negeri China mengatakan panggilan itu diprakarsai oleh pihak Ukraina.

Kedua menteri luar negeri juga membahas evakuasi warga negara China dari Ukraina, tercatat 6.000 warga China tinggal, bekerja dan belajar di sana, menurut angka resmi.

“Ukraina bersedia untuk memperkuat komunikasi dengan China, dan berharap China memainkan peran mediasi dalam mencapai gencatan senjata,” kata media China, yang mengutip Kuleba.

Baca Juga  Sukses Gelar Kegiatan Usai Pelantikan, SMSI Bandar Lampung Bahas Rencana Kerja Anggaran Tahun 2022

Panggilan Wang dengan Kuleba dilakukan di tengah eskalasi konflik, saat pasukan Rusia membombardir gedung pemerintah daerah di Kharkiv, kota kedua Ukraina, menewaskan sedikitnya 10 warga sipil, menurut laporan resmi.

Sementara itu, sebuah kolom lapis baja besar meluncur ke arah ibu kota, Kyiv, menimbulkan kekhawatiran bahwa Rusia mungkin akan menghancurkan daerah-daerah sipil.

Kuleba mengunggah sebuah video ledakan besar di Lapangan Kebebasan Kharkiv, menyebutnya sebagai ‘serangan rudal barbar’ yang dihasilkan dari ketidakmampuan Vladimir Putin untuk ‘menghancurkanUkraina’.

Sekutu Barat terus menunjukkan solidaritas dengan Ukraina, menumpuk tekanan pada Rusia melalui sanksi dan bantuan militer.

Di sisi lain, China mengatakan ‘dengan keras’ menentang sanksi terhadap Rusia. Dikatakan Beijing jika dialog ‘adalah satu-satunya cara untuk menghentikan pertempuran’.

China telah mengamati peristiwa itu dengan cermat. Pada hari Selasa, (1/3/2022) Wang Yi terus mengambil pandangan yang seimbang tentang tindakan Rusia terhadap tetangganya.

Dia mengatakan sementara China percaya keamanan satu negara ‘tidak boleh mengorbankan keamanan negara lain’, keamanan regional ‘tidak dapat diwujudkan melalui perluasan blok militer’.

Wang Yi mengatakan kepada Kuleba bahwa tugas mendesak untuk saat ini adalah meredakan situasi sebanyak mungkin untuk mencegah konflik meningkat atau bahkan lepas kendali.

Baca Juga  Jaga Optimalisasi Kinerja, Besok Jam Kerja ASN Pemkot Bandarlampung Mulai Diterapkan

Dia juga mendesak Ukraina untuk ‘mengambil tanggung jawab internasional yang sesuai’.

“China sedang mencoba untuk menyeimbangkan posisi untuk mendukung ‘kekhawatiran yang masuk akal’ Rusia dan pada saat yang sama untuk tidak membakar semua jembatan,” kata Yun Sun, direktur program Asia timur di Stimson Center di Washington.

Lebih lanjut dikatakan oleh Yun Sun jika saat ini China mungkin tak akan memberikan langkah yang memuaskan bagi dunia untuk menentang Rusia.

“Putin mengetahuinya. Apa pun yang dilakukan Rusia, AS masih tampak besar sebagai ancaman terbesar bagi China. Untuk itu saja, China tidak akan menentang Rusia,” katanya menjelaskan. (SA)

Gambar Gravatar
(Visited 18 times, 1 visits today)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *