Ia menceritakan bahwa dirinya sempat mengecek ke pangkalan di dekat rumahnya yang baru saja mendapatkan pasokan gas elpiji.
“Iya waktu itu barang datang. Eh, selang sehari saya mau beli gas di pangkalan itu, tapi barang sudah habis. Padahal, pas waktu saya lihat banyak sekali,” terangnya.
“Kok bisa cepat habis gitu. Emang dikemanakan? Gimana nasib kami warga yang benar-benar membutuhkan kalau kondisinya seperti ini,” lanjutnya.
Hal senada diutarakan Dwi, warga Desa Siraman, Kec. Pekalongan, Kab. Lamtim. “Iya, memang susah carinya. Keliling kemana-mana gak dapat-dapat,” jelasnya.
Menurutnya, selain sulit mendapatkan barang, ia juga mengeluhkan dengan tingginya harga gas elpiji di pasaran terutama di tingkat pengecer.
“Udah barang sulit nyarinya. Harganya juga mahal bisa sampai Rp 25-Rp 26 ribu pertabungnya. Kalau gini caranya kan nyusahin rakyat kecil,” katanya.
Ia pun meminta kepada pemerintah kabupaten setempat untuk segera mengambil langkah dalam rangka mengatasi persoalan kelangkaan gas elpiji tersebut.
“Ya harus gerak cepat misal lakukan pengawasan dan penindakan bila ada oknum-oknum yang melakukan malapraktik distribusi. Kan, kasihan korbannya rakyat kecil seperti kami ini,” tandasnya. (SA)











