oleh

DLH Bandar Lampung Buka Suara Soal Gunung Kunyit

5W1H, Bandar Lampung – Keberadaan Gunung Kunyit di Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Bumi Waras memang sebenarnya telah habis menyisakan bebatuan saja.

Hal tersebut diungkapkan Sahriwansah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bandar Lampung saat menanggapi soal longsornya Gunung Kunyit di kelurahan Sukaraja, Kecamatan Bumi Waras kemarin, Selasa (3/12/2019).

Sahriwansah menilai kejadian tersebut sebagai insiden yang tidak membahayakan.

“Jadi Gunung Kunyit saya lihat itu yang longsor hanya sabesnya saja. Karena Gunung Kunyit itu sudah tinggal batu,” ujarnya, Rabu (4/12/2019).

Bahkan ia mengatakan, sesuai Peraturan Daerah (Perda) keberadaan Gunung Kunyit sudah dihapuskan atau ditiadakan.

Baca Juga  Baitul Mal Nusantara Gandeng Global Zakat-ACT Lampung Salurkan Zakat Berupa Dirham

“Ya sudah ada perdanya dihapuskan Gunung Kunyit itu. Saya lihat juga pas ada acara di sana, longsornya Gunung Kunyit ini tidak membahayakan sama sekali karena jauh dari pemukiman,” jelasnya.

Saat ditanya lebih jauh mengenai jumlah total bukit di Bandar Lampung yang masih terjaga, Sahriwansah kurang paham secara data.

“Waduh saya kurang paham jumlah bukit itu, mohon maaf ya, saya tidak bisa komentari lebih jauh,” ucapnya.

Namun, pihaknya terus berupaya menekan kerusakan gunung atau bukit yang ada agar tidak semakin parah.

Baca Juga  Terkait Bahaya Jamur Enoki, Dinas Pangan Bandarlampung: Masyarakat Tidak Perlu Panik, Ini Alasannya

“Sudah saya katakan, bahwa kita selalu berupaya menekan penggerusan perbukitan. Dimana dalam melaksanakan suatu pembangunan agar membuat perencanaan,” paparnya.

Sehingga saat pengembang hendak membuat bangunan, tidak perlu menggerus namun tetap bisa membangun dalam kondisi atau keadaan yang seperti itu menyesuaikan dengan peraturan tata ruang wilayah yang ada.

“Karena ada suatu persoalan juga tentang masalah tanah milih orang lain ini, manakala mau kita halangi dia merasa itu tanah dia,” ucapnya.

Baca Juga  Betik Youth Singers Meraih Medali Emas Pertama di 4th World Virtual Choir Festival

Belum lagi jika daerah tersebut termasuk dalam kawasan barang dan jasa. “Jadi mau tidak mau harus melakukan penataan lahan. Seiring pertumbuhan daripada Kota Bandar Lampung itu sendiri,” pungkasnya. (SA)

(Visited 127 times, 1 visits today)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.