oleh

DLH Bandar Lampung Buka Suara Soal Gunung Kunyit

5W1H, Bandar Lampung – Keberadaan Gunung Kunyit di Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Bumi Waras memang sebenarnya telah habis menyisakan bebatuan saja.

Hal tersebut diungkapkan Sahriwansah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bandar Lampung saat menanggapi soal longsornya Gunung Kunyit di kelurahan Sukaraja, Kecamatan Bumi Waras kemarin, Selasa (3/12/2019).

Sahriwansah menilai kejadian tersebut sebagai insiden yang tidak membahayakan.

“Jadi Gunung Kunyit saya lihat itu yang longsor hanya sabesnya saja. Karena Gunung Kunyit itu sudah tinggal batu,” ujarnya, Rabu (4/12/2019).

Baca Juga  OJK, Korem 043 dan Dinkes Provinsi Lampung Vaksinasi 3000 Pegawai Sektor Jasa Keuangan

Bahkan ia mengatakan, sesuai Peraturan Daerah (Perda) keberadaan Gunung Kunyit sudah dihapuskan atau ditiadakan.

“Ya sudah ada perdanya dihapuskan Gunung Kunyit itu. Saya lihat juga pas ada acara di sana, longsornya Gunung Kunyit ini tidak membahayakan sama sekali karena jauh dari pemukiman,” jelasnya.

Saat ditanya lebih jauh mengenai jumlah total bukit di Bandar Lampung yang masih terjaga, Sahriwansah kurang paham secara data.

Baca Juga  Cegah Penyebarluasan Corona, IJTI Lampung Bagikan Masker ke Sejumlah Masjid di Bandarlampung

“Waduh saya kurang paham jumlah bukit itu, mohon maaf ya, saya tidak bisa komentari lebih jauh,” ucapnya.

Namun, pihaknya terus berupaya menekan kerusakan gunung atau bukit yang ada agar tidak semakin parah.

“Sudah saya katakan, bahwa kita selalu berupaya menekan penggerusan perbukitan. Dimana dalam melaksanakan suatu pembangunan agar membuat perencanaan,” paparnya.

Sehingga saat pengembang hendak membuat bangunan, tidak perlu menggerus namun tetap bisa membangun dalam kondisi atau keadaan yang seperti itu menyesuaikan dengan peraturan tata ruang wilayah yang ada.

Baca Juga  Kolaborasi Bank Indonesia Kpw dan ACT Lampung, 800 Paket Bahan Pokok Siap Disalurkan

“Karena ada suatu persoalan juga tentang masalah tanah milih orang lain ini, manakala mau kita halangi dia merasa itu tanah dia,” ucapnya.

Belum lagi jika daerah tersebut termasuk dalam kawasan barang dan jasa. “Jadi mau tidak mau harus melakukan penataan lahan. Seiring pertumbuhan daripada Kota Bandar Lampung itu sendiri,” pungkasnya. (SA)

(Visited 90 times, 3 visits today)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed