Terkait perkembangan inflasi terkini, Direktur Statistik Harga Badan Pusat Statistik (BPS), Sarpono, memaparkan bahwa inflasi tahun kalender (year-to-date) pada September 2026 berada pada level 2,17%. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau serta transportasi tercatat sebagai penyumbang inflasi terbesar.
Sarpono juga menggarisbawahi tren kenaikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) di 36 provinsi pada minggu ketiga Oktober 2026, di mana komoditas cabai merah dan cabai rawit menjadi penyumbang utama.
Tercatat, rata-rata harga cabai merah dan cabai rawit nasional saat ini berada di atas harga acuan penjualan, yang berdampak pada lebih dari 269 kabupaten/kota.
Menanggapi lonjakan harga komoditas cabai yang mendominasi inflasi saat ini, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian (Kementan), Sudi Martiyanto, menjelaskan bahwa secara agregat produksi nasional, ketersediaan cabai rawit (sekitar 134.000 ton) dan cabai besar (sekitar 117.000 ton) sebenarnya sangat memadai untuk memenuhi permintaan bulanan yang berkisar 70.000 hingga 80.000 ton.
“Permasalahan utama yang menjadi titik diskusi selama ini adalah persoalan distribusi,” terang Sudi Martiyanto.
Ia juga mencatat bahwa tren harga cabai merah keriting di wilayah Sumatera, seperti di Kabupaten Solok (Rp 70.000), Kabupaten Karo (Rp 62.000), dan Aceh (mendekati Rp 60.000) terpantau lebih tinggi dibandingkan wilayah lain.
Sebagai tindak lanjut konkret penanganan harga cabai, Kementerian Pertanian mulai besok akan menerjunkan 5 tim khusus ke daerah-daerah dengan harga cabai tertinggi.
Tim ini bertugas memberikan bantuan intervensi berupa bibit, pupuk, dan sarana produksi pertanian (saprodi), serta melakukan pemantauan langsung yang evaluasinya akan dilaporkan kepada kepala daerah setempat.
Sejalan dengan arahan tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung berkomitmen untuk terus proaktif mengamankan rantai distribusi pasokan pangan di daerah, serta mempercepat regulasi pendukung guna memastikan kelancaran pelaksanaan Program 3 Juta Rumah bagi kesejahteraan masyarakat Lampung. (Rls/SA)











