Pemerintah Provinsi Lampung tidak main-main. Anggaran fantastis senilai lebih dari Rp 130 miliar dikucurkan untuk memastikan jalan ini tidak lagi menjadi jebakan bagi kendaraan pengangkut hasil bumi.
Skema percepatan pun dilakukan, tender yang semula dijadwalkan bulan Mei, ditarik maju ke bulan Maret agar alat berat bisa segera menderu di lokasi pada awal April. Target besar dicanangkan: konektivitas total sepanjang 40 kilometer lebih akan tuntas sepenuhnya pada 2028.
”Tahun ini ada yang langsung kita rigid beton. Area yang belum terjangkau beton tahun ini, akan kita tutup dengan base agar tidak ada lagi mobil yang jeblos,” tegas Gubernur.
Harapan yang Kembali Bersemi
Suasana haru sekaligus bangga menyelimuti warga saat melihat pemimpin mereka hadir di tengah kepulan debu Rawa Pitu. Subari, salah seorang warga, mengungkapkan bahwa kehadiran Gubernur adalah sebuah kebanggaan yang menyerap aspirasi mereka hingga ke akar rumput.
Senada dengan itu, Kepala Desa Sumber Agung, Sahel S., menyebut langkah ini sebagai “eksekusi yang luar biasa”. Bagi 3.000 penduduk desa dan ribuan warga lainnya di Kecamatan Rawa Pitu hingga Penawar Aji, beton yang akan tertanam bukan sekadar material konstruksi, melainkan urat nadi kehidupan yang akan membawa hasil panen mereka menuju kesejahteraan yang lebih baik.
Dengan percepatan ini, Pemerintah Provinsi Lampung kembali menegaskan bahwa tidak boleh ada wilayah yang tertinggal dalam pembangunan, terutama mereka yang menjadi tulang punggung pangan daerah. (Rls/SA)










