LampungNasionalPemerintahan

Rawat Pengetahuan dan Warisan Budaya, Pemprov Lampung Dukung Pameran Kayu Ara

×

Rawat Pengetahuan dan Warisan Budaya, Pemprov Lampung Dukung Pameran Kayu Ara

Sebarkan artikel ini

Salah satu jejak yang mudah dikenali dari pemikiran dan karya Anshori adalah Tugu Siger di depan Pelabuhan Bakauheni. Bangunan tersebut menjadi salah satu wajah Lampung bagi masyarakat yang memasuki provinsi itu melalui jalur penyeberangan dari Pulau Jawa.

Jejak pemikirannya juga disebut hadir dalam ornamen dan ragam hias Lampung pada perkantoran, hotel, fasilitas publik, serta berbagai karya arsitektur. Hal tersebut menunjukkan bagaimana gagasan mengenai kemajuan dan modernitas dapat berjalan bersamaan dengan upaya mempertahankan identitas daerah.

Gubernur Mirza mengatakan, Kayu Ara dapat menjadi simbol bagaimana pengetahuan seharusnya tumbuh dan diwariskan. Seperti pohon yang memiliki akar, batang, daun dan buah, pengetahuan tumbuh dari pengalaman masa lalu, dikembangkan pada masa kini, kemudian menjadi bekal bagi generasi berikutnya.

“Kayu Ara menjadi simbol bahwa karya dan pemikiran tidak mengenal batas usia. Yang paling penting bukan hanya seberapa tinggi seseorang tumbuh, tetapi seberapa kuat akar pengetahuan yang ditanam dan seberapa luas martabat yang diberikan bagi masyarakat dan generasi mendatang,” ujar Gubernur.

Karena itu, Pemprov Lampung memandang pameran tersebut merupakan bukti bahwa generasi muda Lampung mampu membawa karya dan gagasan daerah ke ruang nasional.

Arsitektur, teknologi, lingkungan, budaya dan seni kontemporer dipertemukan dalam satu ruang sehingga identitas Lampung dapat dibicarakan dengan bahasa yang lebih dekat dengan generasi sekarang.

Pelaksana Tugas Direktur Operasional TMII Jaya Chandranegara mengatakan, Contemporary Art Gallery tidak hanya menjadi tempat memajang karya, tetapi juga ruang untuk mempertemukan gagasan, membuka percakapan dan menghadirkan perspektif baru bagi pengunjung.

Sejak diresmikan pada 28 Oktober 2023, Contemporary Art Gallery telah bekerja sama dengan 11 ekshibitor dan menyelenggarakan 14 pameran. Pameran Kayu Ara bersama Rimpang Digital menjadi bagian dari perjalanan galeri tersebut menuju penyelenggaraan pameran ke-15.

Menurut Jaya, kekuatan pameran Kayu Ara terletak pada cara pemikiran Anshori Djausal mempertemukan arsitektur, teknologi, lingkungan dan budaya Lampung dalam satu ruang.

Budaya, kata dia, tidak semestinya berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi harus terus bergerak, ditafsirkan kembali dan menemukan relevansinya dalam kehidupan sekarang.

Pemprov Lampung berharap pameran Kayu Ara tidak berhenti sebagai catatan perjalanan seorang tokoh. Pameran ini diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi lahirnya gagasan dan karya baru, sekaligus mendorong generasi muda untuk mengenali akar pengetahuan daerah tanpa kehilangan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Dengan membawa perjalanan lebih dari empat dekade Anshori Djausal ke ruang nasional, pameran Kayu Ara membuka kesempatan bagi masyarakat untuk melihat bahwa kemajuan teknologi dan arsitektur dapat berjalan beriringan dengan pelestarian identitas budaya.

Bagi masyarakat Lampung, warisan pengetahuan tersebut dapat menjadi modal untuk membangun daerah yang modern, tetapi tetap memiliki akar budaya yang kuat. (Rls/SA)