”Pemerintah Provinsi Lampung berkomitmen mendorong identitas budaya Lampung untuk terus dipopulerkan dan diimplementasikan. Tanpa budaya, kita tidak memiliki identitas. Tanpa identitas, kita tidak kaya. Salah satu cara menjaga Pancasila adalah dengan menjaga identitas kita, yaitu dengan budaya,” tegasnya.
Gubernur Mirza turut mendorong generasi muda untuk memanfaatkan era digital, melanjutkan tradisi dengan cara yang modern, serta menyebarkan nilai-nilai budaya melalui kreativitas, kolaborasi, dan teknologi.
Gubernur berharap, pagelaran seni budaya ini menjadi sarana yang edukatif, inspiratif, dan rekreatif, tidak hanya dalam menampilkan kekayaan budaya lokal, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebangsaan yang kuat bagi seluruh masyarakat.
Sementara itu, Ketua MPR RI Ahmad Muzani mengapresiasi Provinsi Lampung sebagai contoh nyata praktik Bhinneka Tunggal Ika.
Menurut Ahmad Muzani, persatuan di Lampung terjalin kuat, di mana masyarakat pribumi Lampung yang jumlahnya lebih kecil dapat menerima dan bersatu dengan berbagai etnis pendatang.
”Orang-orang yang datang di bumi Lampung, merasa dirinya orang Lampung, meski sukunya berbeda. Tradisi sapaan ‘Tabik Pun’ yang dijawab ‘Iya Pun’ adalah bentuk bagaimana kebhinekaan dipraktikkan di bumi Lampung ini,” ujarnya,
Ahmad Muzani kemudian menyoroti pentingnya pelestarian aset budaya nasional. Ia menyebut bahwa di Indonesia terdapat sekitar 700 bahasa daerah yang harus dipertahankan.
Secara khusus, ia mengingatkan potensi punah pada Bahasa Lampung karena menurunnya jumlah penutur dan minimnya penggunaan bahasa daerah tersebut di lingkungan keluarga.
“Ini tidak boleh terjadi, supaya anak-anak cucu kita, generasi yang akan datang masih tahu tentang Bahasa Lampung,” tandasnya. (Rls/SA)











