5W1HINDONESIA.ID, Bandar Lampung – Program pemberdayaan ekonomi berbasis kewilayahan di Kota Tapis Berseri terus menunjukkan progres. Dinas Koperasi dan UKM Kota Bandar Lampung mencatat sebanyak 62 Koperasi Merah Putih kini telah aktif menjalankan kegiatan usaha di tingkat kelurahan.
Meskipun aktivitas ekonomi sudah mulai berdenyut, fakta di lapangan menunjukkan bahwa seluruh koperasi tersebut hingga kini belum memiliki gedung operasional secara mandiri.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kota Bandar Lampung, Riana Apriana, menjelaskan bahwa pembentukan Koperasi Merah Putih ini dilakukan secara merata di seluruh wilayah kota. Saat ini, total terdapat 162 koperasi yang telah terbentuk, sesuai dengan jumlah kelurahan yang ada di Bandar Lampung.
“Sebanyak 162 Koperasi Merah Putih ada di Bandar Lampung sesuai dengan jumlah kelurahan. Semuanya sudah berbadan hukum,” ujar Riana saat memberikan keterangan, Kamis (26/2/2026).
Namun, Riana mengakui bahwa dari total ratusan koperasi yang sudah sah secara hukum tersebut, baru sebagian yang berhasil meluncurkan unit usahanya ke publik.
“Sekitar 62 koperasi yang sudah punya gerai usaha dan mulai beroperasi,” tambahnya.
Siasati Keterbatasan Gedung Operasional
Tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah ketersediaan infrastruktur fisik. Riana mengungkapkan bahwa hingga detik ini, belum ada satu pun Koperasi Merah Putih yang memiliki gedung sendiri untuk menunjang aktivitas harian mereka.
Untuk mensiasati hal tersebut, para pengurus koperasi menggunakan berbagai skema agar roda organisasi tetap berjalan, di antaranya:
-
Pemanfaatan Kantor Kelurahan: Menggunakan ruang yang tersedia di kantor pemerintahan setempat.
-
Pinjam Tempat: Memanfaatkan lokasi milik warga atau pihak lain untuk sementara waktu.
“Belum ada yang punya gedung. Ada yang menggunakan kantor kelurahan, ada juga yang meminjam tempat untuk operasional,” jelas Riana.
Meski masih terkendala fasilitas gedung, Pemerintah Kota Bandar Lampung berkomitmen untuk terus mengawal pengembangan Koperasi Merah Putih. Pemerintah berharap koperasi-koperasi ini tidak sekadar menjadi nama di atas kertas, melainkan mampu menjadi motor penggerak ekonomi warga di tingkat kelurahan.
Optimisme tetap tinggi bahwa seiring dengan berkembangnya unit usaha (gerai) yang dimiliki, koperasi-koperasi ini nantinya akan mampu mandiri secara finansial dan fasilitas di masa depan.





