“Penularan LSD secara langsung melalui kontak dengan lesi kulit, namun virus LSD juga diekskresikan melalui darah, leleran hidung dan mata, air liur, semen dan susu. Penularan juga dapat terjadi secara intrauterine,” kata Rifki selaku dokter hewan.
“Secara tidak langsung, penularan terjadi melalui peralatan dan perlengkapan yang terkontaminasi virus LSD seperti pakaian kandang, peralatan kandang, dan jarum suntik. Penularan secara mekanis terjadi melalui vektor yaitu nyamuk (genus aedes dan culex), lalat (Stomoxys sp, Haematopota spp, Hematobia irritans), migas penggigit dan caplak (Riphicephalus appendiculatus dan Ambyomma heberaeum),” tambah Rifki.
Pada kesempatan itu, tim dokter hewan dari Dinas Pertanian melakukan sejumlah antisipasi dengan melakukan cek fisik hewan ternak dan penyemprotan desinfektan.
“Kita juga mengimbau agar para peternak sapi menjaga kebersihan kandangnya supaya potensi terjangkitnya bisa semakin berkurang. Selain itu kami juga akan berupaya untuk mendapatkan vaksin untuk LSD ini dalam waktu dekat” pungkasnya.





