oleh

JTTS Jadikan Perekonomian Lampung Kian Hidup

5W1HIndonesia.id, Bandar Lampung – Keberadaan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) yang kian merekatkan provinsi di Sumatera memberi manfaat yang begitu besar bagi masyarakat.

Pasalnya, jarak tempuh antar kota kini semakin dekat sehingga mobilitas menjadi lebih lancar.

Contoh nyata, jarak tempuh Bakauheni, Provinsi Lampung menuju Kota Palembang, Provinsi Sumatera Selatan yang sebelumnya ditempuh jalur darat 12 jam, saat ini berkisar 3,5 jam saja.

Tidak hanya jarak, JTTS juga berdampak terhadap pembangunan di Provinsi Lampung menjadi terintegrasi.

Adanya infrastruktur yang selaras antara pusat dan daerah merupakan jawaban dari upaya untuk mempercepat lajunya perekonomian di Provinsi Lampung.

Salah satunya, menghidupkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal yang dilintasi jalan tol tersebut, dengan memanfaatkan rest area yang disiapkan PT Hutama Karya (HK).

Sehingga para pelaku UMKM di setiap wilayah yang dilintasi tol bisa menghidupkan perekonomian mereka di lokasi rest area tersebut.

Yani, salah seorang penjual olahan makanan di gerai Rest Area tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung (Terpeka) KM 215 Way Kenanga, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Provinsi Lampung merasakan hal tersebut.

Menurutnya, dirinya sangat terbantu dengan hadirnya gerai atau tenant yang ada di lokasi rest area JTTS ruas Terpeka.

“Ya, jadi punya tempat buat usaha jualan di sini. Lumayan, soalnya banyak pendatang yang mampir saat istirahat di rest area sini,” paparnya, Sabtu (19/3/2022).

Para pendatang yang mampir untuk beristirahat dan membeli makanan di tempat jualannya, kata dia, biasanya dari Palembang, Sumatera Selatan, yang menuju Lampung ataupun sebaliknya.

“Ya karena rest area ini memang di tengah-tengah posisinya antara Lampung dan Palembang. Makanya, yang datang kalau gak dari Palembang ya Lampung,” ceritanya.

Kondisi semakin ramai, kata dia, apabila memasuki masa liburan seperti libur sekolah, libur akhir tahun ataupun jelang lebaran.

“Nah, yang mampir semakin ramai saat liburan di rest area ini. Jadi, itu menguntungkan kami yang jualan di sini,” beber dia.

Ia menjelaskan bahwa kehadiran JTTS memang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar khususnya pedagang kecil yang dilintasi oleh jalur tol.

“Syukur sekali ada JTTS ini, karena kami penjual kecil bisa ada sarana untuk berjualan di rest area. Jadikan ini bantu ekonomi kami terlebih di masa sulit karena pandemi Covid-19,” tuturnya.

Sementara itu, Mulia Rahmi Puri, Kasi Promosi Hasil Industri Diskoperindag Tubaba menuturkan pemerintah setempat sendiri menyediakan satu gerai di lokasi rest area KM 215 Way Kenanga, untuk membantu para pelaku UMKM.

Menurutnya, gerai yang menyajikan oleh-oleh produk kerajinan tangan dan makanan khas Tubaba tersebut dikelola langsung oleh Dekranasda kabupaten setempat.

“Jadi kita ini bantu industri kecil menengah (IKM) atau UMKM. Semua produk kerajinan olahan tangan dan makanan yang ada di Tubaba kita bantu untuk pemasarannya,” paparnya.

Ia menjelaskan gerai oleh-oleh khas produk Tubaba ini hadir tidak lain untuk memperkenalkan hasil kerajinan tangan dan makanan di Tubaba.

“Di sini lah kita perkenalkan bahwasannya kita punya itu. Jadi kita di sini sebagai pusat oleh-oleh khas dari sini,” beber dia.

Mulia mengatakan produksi produk oleh-oleh khas Tubaba dipesan langsung dari perajin di wilayah seputaran kabupaten setempat seperti Gedung Ratu.

Baca Juga  Gubernur Lampung Ajak Relawan Sosial Bersatu Kawal Program Sosial agar Tepat Sasaran

Jumlah perajin olahan tangan dan makanan oleh-oleh khas Tubaba yang tersedia di gerai sekitar puluhan perajin.

“Jadi siapa saja yang sudah punya izin, dan untuk makanan yang jelas kemasan dan jenis makanannya kita persilakan masuk ke gerai ini,” katanya.

Lanjutnya, harga penganan atau makanan khas di sini variatif mulai dari Rp5 ribu-Rp40 ribu.

Sementara, kalau produk kerajinan seperti kain tapis harganya hampir sampai Rp1 juta. Sedangkan, kalau yang pernak-pernik sekitar Rp125 ribu-Rp200 ribu.

“Kalau kita memang hanya membantu pemasaran saja. Sehingga dengan hadirnya gerai ini, orang jadi tahu semua,” ungkapnya.

Pembeli sendiri rata-rata asal dari Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) karena memang rest area ini jalurnya dari Palembang.

“Jadi rata-rata yang dilihat untuk pengendara yang mampir ke rest area ini adalah pelat BG dan tahu dari logat bicaranya,” jelasnya.

Ia pun menegaskan bahwa pihaknya sebagai perpanjangan tangan pemerintah daerah sifatnya benar-benar hanya membantu para perajin di Tubaba.

Pasalnya, selama ini mereka itu bisa membuat namun untuk jangkauan pemasarannya yang sempit.

Ia mengharapkan dengan hadirnya gerai oleh-oleh khas Tubaba di rest area ini dapat benar-benar membantu para perajin dan mengenalkan produk asli khas daerah.

“Memang benar kita mencari keuntungan, tapi yang jelas yang utama supaya dikenal orang dulu,” tandas dia.

Sebagai Ajang Promosi

Pengembangan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) memiliki tujuan agar dapat memobilisasi transportasi dengan efektif dan efisien.

“Sehingga mobilisasi barang, jasa dan kegiatan usaha lainnya dapat berjalan lebih efesien, efektif dan waktunya lebih singkat,” papar Erwin Octavianto, Pengamat Ekonomi Central for Urban and Regional Studies (CURS).

Artinya, jika dilihat dari aspek ekonomi tentunya berdampak positif terhadap arus pergerakan barang.

“Karena kita tahu memang di Provinsi Lampung sendiri saat ini jalannya banyak yang rusak baik jalan provinsi ataupun jalan nasional,” beber dia.

Tentu hal ini menjadi poin penting bagi kegiatan pengembangan ekonomi di setiap daerah.

“Terutama yang dilintasi tol yang menyediakan rest area. Terlebih bagi UMKM yang memproduksi produk khas daerah. Ini bisa menjadi ajang promosi nantinya,” ungkapnya.

Kalau diamati dulunya jalan nasional di berbagai daerah wilayah Provinsi Lampung seperti Tulang Bawang, Mesuji dan lainnya untuk kondisi jalannya rusak. Kemudian, daerah Bandar Jaya dan Simpang Tegineneng selalu macet.

“Dan berbagai jalan-jalan yang tentunya menghambat mobilisasi barang dan jasa yang masuk dan keluar dari Provinsi Lampung,” jelasnya.

Sehingga dengan adanya jalan tol, persoalan-persoalan tersebut menjadi lebih mudah dan efisien dalam hal bagaimana kegiatan mobilisasi barang dan jasa tersebut dilakukan.

“Tentu dari aspek ekonomi ini berdampak baik bagi kegiatan usaha yang notabenenya baik di dalam maupun luar Lampung yang menuju dari dan ke Lampung,” tuturnya.

Ia mengatakan bahwa, jalan tol tersebut tidak hanya berdampak pada kegiatan industri dan ekonomi tapi juga kegiatan pariwisata.

Ternyata setelah dilihat di lapangan banyak juga orang-orang dari luar daerah yang datang ke Lampung sekadar berwisata.

“Yang paling banyak kalau saya lihat itu pelat BG atau asal Palembang. Itu kalau hari-hari libur biasa atau nasional terlihat antrean di sepanjang pintu jalan tol keluar yang menuju pantai,” jelasnya.

Baca Juga  Walikota Bandar Lampung Resmikan Menara Masjid Al-Furqon

“Lalu, kemudian yang menuju tempat-tempat rekreasi lainnya yang memang tidak dimiliki Palembang tapi dimiliki Lampung,” kata Erwin.

Sehingga ini menjadi nilai positif juga dan Lampung ini dengan adanya JTTS jaraknya dekat hanya memakan waktu 3-4 jam dari Palembang.

“Artinya mereka berangkat pagi pun sampai di tempat wisata itu masih bisa berkegiatan wisata hingga sore dan tidak terlalu malam juga pulang ke Palembang,” tandasnya.

Keterlibatan Dunia Usaha

PT Hutama Karya (Persero) sebagai badan usaha jalan tol mengharapkan adanya keterlibatan dunia usaha kelas menengah ke bawah terutama UMKM.

“Salah satunya, kami juga sediakan sarana di rest area Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ini agar ekonomi kerakyatan semakin hidup,” terang Yoni Satyo Wisnuwardhono, Branch Manager PT Hutama Karya ruas Terpeka.

“Dan Alhamdulillah kita telah melibatkan seluruh kabupaten yang dilewati jalan tol,” terus Yoni.

Ia menjelaskan bahwa seperti di rest area KM 215 Way Kenanga, UMKM sendiri proporsinya itu sebanyak 70 persen dari jumlah titik usaha yang ada di rest area.

“Jadi, sekitar 58 kios kita peruntukkan untuk UMKM,” jelas dia.

Menurutnya, keberadaan rest area ini juga sudah dikomunikasikan kepada pemerintah setempat khususnya ke masing-masing kabupaten.

“Alhamdulillah untuk di sini sudah disambut baik oleh Pemerintah Kabupaten Tulang Bawang Barat untuk membuka sentra oleh-oleh di rest area,” kata dia.

Kehadiran sentra oleh-oleh ini juga, sambung Yoni, sebagai pancingan bagi kabupaten lain untuk membuka hal serupa.

“Responnya cukup baik. Jadi, kita juga bekerjasama dengan pemerintah kabupaten setempat bisa maju bersama. Maka saling memiliki dan menjaga,” bebernya.

Sistemnya bagi masyarakat yang ingin membuka usaha hanya menyewa tempat saja dan dikelola secara mandiri.

“Mereka pengelola sendiri. Jadi, mereka menyewa tempat dan diberikan kemudahan fasilitas. Dan kami selalu memberikan kesempatan yang sama pada tiap pemerintah daerah,” terangnya.

“Dan kemungkinan akan terus bertambah ke depannya,” sambung Yoni.

Ia menjelaskan keterlibatan HK sendiri hanya sebagai penyedia fasilitas yang ada di rest area yang bisa dijadikan sebagai etalase daerah.

“Mungkin transaksi jual beli tidak terjadi langsung di rest area. Tapi lebih kepada menjadi etalase suvenir maupun wisata saja,” tuturnya.

“Jadi untuk ajang mempromosikan dan memperkenalkan,” tegasnya.

Ke depan, sentra oleh-oleh khas daerah ini juga akan menyiapkan peta wisata sehingga lebih memudahkan para pendatang.

“Jadi terkait wisata, kita memberikan kemudahan akses. Sebelum ada tol Tubaba ini tidak ada akses karena harus berputar dulu. Ya keuntungannya lebih mempersingkat waktu dan juga jarak,” pungkasnya. (SA)

Gambar Gravatar
(Visited 33 times, 1 visits today)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.