“Sinergi antara rekening SimPel syariah dan bank sampah ini adalah inovasi yang luar biasa. Santri tidak hanya belajar menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga belajar menabung, mengelola keuangan, dan berkontribusi pada ekonomi sirkular yang berkelanjutan,” tambah Otto.
Sementara itu, Wakil Gubernur Lampung yang diwakili oleh Rinvayanti, menyampaikan bahwa Provinsi Lampung memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi syariah karena merupakan provinsi dengan jumlah pondok pesantren terbesar kedua di Sumatra, yaitu sebanyak 1.196 lembaga.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, OJK, lembaga keuangan syariah, dan pesantren dalam memberdayakan masyarakat melalui sistem ekonomi yang adil, etis, dan berkelanjutan.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Pesawaran, Ibu Hj. Nanda Indira Bastian, mengapresiasi dukungan OJK dan BSI yang telah membuka 600 rekening pelajar bagi santri.
Ia berharap kolaborasi ini dapat memperkuat semangat kemandirian
dan literasi keuangan syariah di kalangan santri serta mendorong pesantren menjadi pusat pemberdayaan ekonomi yang inklusif dan berdaya saing.
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Hidayat, Kyai Hi. Ahmad Ma’shum Abror, turut menyampaikan bahwa santri di Al-Hidayat tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga dibekali keterampilan kewirausahaan seperti membuat roti, meracik kopi, hingga mengelola pertanian.
Ia berharap program EPIKS ini dapat memperluas manfaat ekonomi pesantren sekaligus membantu pengelolaan sampah menjadi bernilai ekonomis.
Melalui peluncuran program EPIKS ini, OJK mempertegas komitmennya untuk mendorong keuangan syariah sebagai pilar penting inklusi keuangan nasional, dengan menjadikan pesantren sebagai pusat penggerak ekonomi umat dan agen perubahan menuju masyarakat yang sejahtera, berdaya, dan cerdas finansial. (Rls/SA)










