Kedua, Harga Kompetitif: Pemberian insentif harga di atas rata-rata pasar (tambahan Rp 300 – Rp 500 per kilogram).
Ketiga, Optimalisasi Aset: Pemanfaatan fasilitas R&D dan mesin perbenihan milik SHS di Nambahrejo, Lampung Tengah untuk dikelola bersama BUMD.
Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Lampung, Mulyadi Irsan, memaparkan data strategis yang menjadikan Lampung sebagai mitra vital bagi SHS: pertama, Kontribusi Ekonomi: Sektor pertanian menyumbang sekitar 28 persen terhadap struktur ekonomi Lampung.
Kedua, Produksi Padi: Pada tahun 2025, Lampung mencatatkan surplus produksi mencapai 3,5 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).
Ketiga, Produksi Jagung: Lampung menempati peringkat lima besar nasional dengan kontribusi sebesar 8 persen terhadap produksi jagung nasional.
Pemerintah Provinsi Lampung mengarahkan agar pengembangan titik-titik penangkaran benih ini nantinya tersebar di wilayah potensial seperti Trimurjo, Pringsewu, hingga Tanggamus. (Rls/SA)











