“Kenapa terjadi deflasi, itu karena adanya subsidi, diskon dari pemerintah itu 50% untuk pelanggan dibawah 2.200 VA itu jumlahnya hampir 80 juta orang dan itu Januari dan Februari, nilainya 13 triliun, ini kebijakan bapak presiden, besar pengaruhnya kepada angka Inflasi, terjadi minus untuk harga yang diatur oleh pemerintah,” terangnya.
Mendagri juga menyoroti bahwa daya beli masyarakat dapat dilihat dari core inflation atau inflasi inti, dimana inflasi inti ini yang menunjukkan bagaimana situasi di lapangan.
“Core inflation atau inflasi inti yaitu diluar makanan minuman dan diluar dari harga yang diatur pemerintah, itu betul-betul menunjukkan bagaimana situasi di lapangan. Kalau melihat angka-angka itu, tertinggi adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya, ini termasuk komponen banyak yang beli emas 8,43% tinggi, artinya masyarakat masih mampu mengeluarkan uang untuk perawatan pribadi dan jasa lainnya,” ucapnya.
“Yang nomor 2 adalah makanan dan minuman/ restoran 2,47%, masyarakat masih bisa keluar uang untuk ke restoran. Pendidikan 2,04%, kemudian rekreasi, olahraga dan budaya 1,14%, untuk kesehatan 1,79%, membeli pakaian dan alas kaki masih plus 1,18%, ini menunjukkan bahwa kondisi inflasi kita bukan karena supply nya yang kurang, supply cukup,” lanjutnya.
Mendagri juga menegaskan bahwa komoditas jagung dan beras, Indonesia berada di puncak panennya sehingga stok dapat mencukupi.
“Komoditas utama beras dan jagung, kita saat ini lagi puncak panen, cukup, stok beras kita sangat tinggi. Jadi, daya beli masyarakat masih ada dan harganya, supply, cukup, itulah yang membuat terjadinya inflasi ditambah lagi dengan subsidi pemerintah pada sektor listrik,” tandasnya. (Rls/SA)











