Nasional

Refleksi 2025 dan Outlook 2026, BSN Perkuat Perlindungan Masyarakat dan Daya Saing Nasional

×

Refleksi 2025 dan Outlook 2026, BSN Perkuat Perlindungan Masyarakat dan Daya Saing Nasional

Sebarkan artikel ini
Suasana Konferensi Pers bertajuk "Refleksi Tahun 2025 dan Outlook Tahun 2026" di Kantor BSN, Jakarta || Foto: Dok. BSN
Suasana Konferensi Pers bertajuk "Refleksi Tahun 2025 dan Outlook Tahun 2026" di Kantor BSN, Jakarta || Foto: Dok. BSN

5W1HIndonesia.id, Jakarta — Tahun 2025 menjadi periode penuh dinamika bagi Badan Standardisasi Nasional (BSN). Berbagai tantangan berhasil dilalui dengan capaian strategis yang memberikan dampak nyata bagi perlindungan masyarakat, peningkatan daya saing produk nasional, serta penguatan perekonomian Indonesia.

BSN memperkokoh infrastruktur mutu nasional melalui penguatan standardisasi, akreditasi dan metrologi. Di bidang standardisasi, BSN menetapkan 595 Standar Nasional Indonesia (SNI) yang mencakup sektor agro, kimia, kesehatan, ekonomi kreatif, mekanika, energi, infrastruktur, teknologi informasi, serta penilaian kesesuaian.

Secara akumulasi, hingga akhir tahun 2025, BSN mencatat sebanyak 10.081 SNI aktif. Sejumlah standar difokuskan pada produk strategis yang mendukung kebijakan pemerintah, antara lain SNI food tray, interlocking block, geotekstil, beras padi inbrida, beras fortifikasi, dan sistem peringatan dini gerakan tanah.

Plt. Kepala BSN, Y. Kristianto Widiwardono, menyampaikan bahwa perumusan SNI menjadi bagian dari upaya BSN dalam memastikan kebijakan publik berjalan aman dan efektif.

Hal tersebut disampaikannya dalam Konferensi Pers bertajuk “Refleksi Tahun 2025 dan Outlook Tahun 2026” di Kantor BSN, Jakarta, Selasa (27/1/2026).

“SNI 9369:2025 tentang Wadah bersekat (Food Tray) dari baja tahan karat untuk makanan, kami susun untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis. Standar ini memastikan peralatan makan aman digunakan, tahan lama, dan tidak mengandung zat berbahaya, sekaligus mendorong industri dalam negeri menghasilkan produk berkualitas,” ujar Kristianto.

SNI yang telah ditetapkan akan dirasakan manfaatnya ketika diterapkan. Saat ini dari 5.940 jenis produk yang beredar di Indonesia, sebanyak 1.099 jenis produk atau sekitar 18,5 persen telah menerapkan SNI. Sementara itu, 204 jenis produk ber-SNI telah berhasil menembus pasar ekspor atau setara 3,4 persen dari total produk beredar.

Capaian ini didukung dengan keberhasilan 19 Usaha Mikro dan Kecil (UMK) binaan BSN menembus pasar internasional berkat penerapan SNI.

Produk tersebut antara lain durian yang diekspor ke China dan Thailand; rumput laut ke Prancis, Amerika Serikat, dan China; keripik nangka ke Ceko, Malaysia, serta Singapura; tempe ke Jepang; sirup dan bawang goreng ke Australia; mukena ke Malaysia; meja rotan ke Argentina, Perancis, dan Eropa; serta briket arang batok kelapa ke Turki, Swedia, India, dan kawasan Timur Tengah.

Sepanjang 2025, BSN memfasilitasi penerapan SNI kepada 775 UMK dan 52 organisasi, serta mendukung sertifikasi SNI bagi 149 pelaku usaha. BSN menyelenggarakan Bootcamp SNI Bina UMK secara daring selama satu bulan yang diikuti lebih dari 1.000 UMK dari berbagai daerah.

Program ini terlaksana melalui kolaborasi dengan 18 kementerian, lembaga, BUMN, dan institusi terkait.

Di tingkat internasional, BSN aktif memperjuangkan kepentingan nasional melalui partisipasi pada forum Technical Barriers to Trade–World Trade Organization (TBT-WTO).