Di Provinsi Lampung sendiri, aset perbankan syariah tumbuh 16,01% menjadi Rp 7,93 triliun pada 2025, dan pembiayaan meningkat 15,58% menjadi Rp 6,21 triliun. Sementara itu, tingkat literasi pasar modal berdasarkan SNLIK 2025 hanya sebesar 17,78% dan tingkat inklusi sebesar 1,34%.
“Literasi keuangan bukan sekadar soal tahu cara menabung, tapi juga tentang
bagaimana keluarga, terutama ibu-ibu, mampu merencanakan keuangan jangka
panjang, memilih produk keuangan yang tepat, dan mengambil keputusan finansial yang bijak demi kesejahteraan keluarga. Ini juga menjadi bagian penting dalam mencegah stunting dan meningkatkan kualitas hidup anak-anak,” ujar Otto Fitriandy.
Talkshow yang menjadi bagian dari rangkaian acara menampilkan narasumber dari OJK, BSI, BEI, dan Bank Indonesia, yang membahas topik mulai dari waspada investasi ilegal, pengenalan produk pasar modal, hingga pemanfaatan QRIS bagi UMKM.
Sementara itu, Wakil Gubernur Lampung, Jihan Nurlela, menggarisbawahi
bahwa peran perempuan dalam rumah tangga sangat strategis, karena sejatinya ibu adalah “menteri keuangan” di rumah.
Ia menekankan bahwa literasi dan inklusi keuangan harus dimanfaatkan sebagai bekal dalam mengelola keuangan rumah
tangga, usaha mikro, hingga investasi.
Acara ini juga dirangkaikan dengan pelantikan Duta GenRe Lampung Tengah dan pengukuhan Duta Literasi Keuangan Kecamatan, sebagai bentuk upaya OJK untuk membangun ekosistem edukasi berkelanjutan di tingkat akar rumput. (Rls/SA)











