LampungPemerintahanPringsewu

Gubernur Lampung Apresiasi Panji Sewu, Tradisi Suran dan Jamasan Pusaka Dinilai Perkuat Identitas Budaya Bangsa

×

Gubernur Lampung Apresiasi Panji Sewu, Tradisi Suran dan Jamasan Pusaka Dinilai Perkuat Identitas Budaya Bangsa

Sebarkan artikel ini
Kesbangpol Provinsi Lampung, Achmad Saefullah, SH., MH., saat menghadiri rangkaian persiapan kegiatan tahunan bertema "Generasi Muda Lestarikan Budaya Bangsa" di Sukoharjo III, RT/RW 004/004, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu  || Foto: Dinas Kominfotik Provinsi Lampung
Kesbangpol Provinsi Lampung, Achmad Saefullah, SH., MH., saat menghadiri rangkaian persiapan kegiatan tahunan bertema "Generasi Muda Lestarikan Budaya Bangsa" di Sukoharjo III, RT/RW 004/004, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu  || Foto: Dinas Kominfotik Provinsi Lampung

5W1HIndonesia.id, Pringsewu – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung memberikan apresiasi kepada Perkumpulan Paguyuban Pelestari Tosan Aji Panji Sewu atas komitmennya menjaga dan melestarikan tradisi Suran serta Jamasan Pusaka Nusantara sebagai warisan budaya yang memperkuat identitas bangsa di tengah arus modernisasi.

Apresiasi tersebut disampaikan Gubernur Lampung dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Lampung, Achmad Saefullah, SH., MH., saat menghadiri rangkaian persiapan kegiatan tahunan bertema “Generasi Muda Lestarikan Budaya Bangsa” di Sukoharjo III, RT/RW 004/004, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, Minggu (28/6/2026).

“Saya menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar Panji Sewu dan seluruh pihak yang dengan penuh ketulusan terus merawat tradisi ini. Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, ikhtiar seperti inilah yang membuat warisan budaya tetap hidup, terus dikenal, dan memiliki tempat di hati masyarakat,” katanya.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya diwujudkan melalui penyelenggaraan acara atau dokumentasi di media sosial, tetapi harus mampu menghadirkan pemahaman atas nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

“Sebuah tradisi akan tetap hidup bukan karena sering ditampilkan, melainkan karena nilai yang dikandungnya terus dipahami dan diwariskan. Ketika maknanya hilang, yang tersisa hanyalah sebuah seremoni. Tetapi ketika maknanya tetap dijaga, tradisi akan selalu menemukan tempatnya di setiap generasi,” katanya.

Achmad Saefullah menjelaskan, tradisi Suran memiliki makna yang sangat relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini. Tradisi tersebut menjadi momentum untuk melakukan refleksi diri, memperbaiki niat, sekaligus menyusun langkah yang lebih baik dalam menjalani kehidupan ke depan.