5W1HINDONESIA.ID, ZONA MUSLIM – Hukum tidak qadha puasa sudah banyak dibahas sehingga umat muslim perlu mengetahuinya. Pada bulan Ramadhan, ada beberapa golongan yang tidak diwajibkan berpuasa, yakni lansia, orang sakit, wanita hamil dan menyusui, serta wanita saat haid.
Namun, untuk orang sakit dan wanita haid, wajib melunasi hutang puasa Ramadhan. Apabila tidak dilakukan, maka ada hukum telat qadha puasa hingga datangnya bulan Ramadhan kembali. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut terkait hukum telah mengganti puasa Ramadhan, simak ulasan berikut.
Apa Hukum Tidak Qadha Puasa hingga Ramadhan Tiba?
Ketika memiliki hutang, setiap umat muslim wajib menggantinya di hari lain. Orang yang terpaksa meninggalkan puasa karena alasan tertentu harus segera membayarnya sebelum datang bulan Ramadhan berikutnya.
Namun, tak jarang beberapa orang telat qadha puasa hingga Ramadhan tiba akibat beberapa kondisi. Kondisi yang dimaksud, meliputi sakit pada beberapa hari sebelum bulan Ramadhan datang.
Selain itu, ada pula alasan lain, berupa bersikap apatis, gegabah, dan sengaja melalaikan kewajiban qadha puasa. Dalam hal ini, puasa yang ditinggalkan hingga tiba Ramadhan berikut dan dilakukan tanpa alasan sah, maka hukumnya haram atau berdosa.
Akan tetapi, jika penangguhan tersebut dikarenakan udzur yang menghalangi, seperti sakit, maka tidak berdosa. Untuk itu, bagi yang sanggup membayar puasa, diwajibkan untuk segera menggantinya agar tidak mendapatkan dosa.
Kewajiban Mengganti Puasa dan Membayar Fidyah
Setelah memahami hukum telat qadha puasa hingga bulan Ramadhan tiba, hal lain yang perlu diketahui adalah kewajiban melunasi hutang puasa tersebut. Orang yang telat qadha puasa sampai waktu Ramadhan tiba, wajib mengganti puasa serta membayar fidyah sebesar satu mud dikalikan jumlah hari hutang puasa.
Menurut Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah, satu mud setara dengan 543 gram. Sementara menurut Hanafiyah, untuk satu mud seukuran dengan 815,39 gram bahan makanan pokok, seperti beras dan gandum.





