Kepala BSN, Kukuh S. Achmad menilai, standar dan penilaian kesesuaian dapat membantu dunia untuk pulih bersama, pulih lebih kuat, dengan cara yang berkelanjutan.
“Dalam dua tahun terakhir, pandemi global telah mempengaruhi setiap aspek kehidupan masyarakat, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga perdagangan internasional. Proses penanganan pendemi secara global tidak dapat terlepas dari dukungan standar internasional,” ungkapnya.
Kukuh meyakini, dengan kolaborasi dan konsistensi para pemimpin negara, manfaat dari penerapan standar dapat dirasakan oleh semua pihak.
“Pada akhirnya, penerapan standar merupakan suatu keniscayaan. Masa depan kemakmuran kita bersama bergantung pada kemampuan kolektif kita untuk menciptakan landasan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan,” tandasnya.
Dalam International Standards Summit 2022, para tokoh standardisasi dari mancanegara memaparkan korelasi standar internasional dengan isu prioritas G20 2022 dan SDGs. Side Event G20 ini juga mengundang Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto serta Wakil Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Jean-Marie Paugam.
Forum G20 merupakan forum yang strategis dalam membangun masa depan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pasalnya, anggota G20 menyumbang 80% dari PDB dunia, 75% perdagangan global, dan 60% populasi dunia.
Adapun Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) para Pemimpin G20 akan berlangsung di Bali pada 15 dan 16 November.
Indonesia mengambil alih Kepresidenan G20 dari Italia pada 1 Desember 2021, dan akan menyelesaikan puncak kepresidenannya dengan KTT Bali, untuk kemudian melaksanakan serah terima ke India pada 1 Desember 2022. (Rls/SA)











