“Saya sebagai perencana kota saya tau persis Kota Metro spesial dibanding kabupaten/kota lainnya. Ketika kita tertinggal itu menjadi sebuah pertanyaan. Maka itu butuh perencanaan yang matang, jangka panjang dan tentu kita fokuskan bukan hanya pada rencana jangka pendek tetapi kita harus rencanakan dengan matang. Perda RT/RW harus terbarukan dan tidak boleh copy paste tetapi benar-benar berdasar pada potensi Kota Metro,” paparnya.
Untuk menunjang hal itu, teknologi informasi sangat berperan. Sebab, pemerintah nantinya bisa mengadopsi rencana tata ruang daerah lainya. Salah satunya, yakni di DKI Jakarta dimana masyarakat bisa memantau seberapa besar alih fungsi lahan di provinsi tersebut.
“Di Jakarta itu masyarakat bisa melihat seberapa besar alih fungsi lahan melalui aplikasi. Semua jelas dalam peta. Akhirnya nanti ketika ada pembangunan yang tidak sesuai, bisa kita tindak lanjuti sesuai dengan konsep kita,” ucapnya.
Selain itu, tambah dia, Anna-Fritz juga mempunyai rencana untuk menata ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Metro. Penataan ini, dilakukan agar RTH tidak hanya sebagai paru-paru kota, tetapi juga tempat belajar dan tempat masyarakat menyalurkan kreatifitasnya.
“Kita punya program ruang publik kreatif nanti dan akan kita kembangkan dan dekatkan RTH termasuk juga urban farming. Ini kita dorong inilah RTH 4.0 dan itu bukan hanya paru-paru kota, ekologi, tetapi juga tempat kreatifitas, dan kesehatan warga,” tambahnya. (Rls/SA)











