LampungLampung SelatanNasionalPemerintahan

Lampung Dorong Investasi Energi Hijau, Proyek Bioetanol Siap Dikembangkan

×

Lampung Dorong Investasi Energi Hijau, Proyek Bioetanol Siap Dikembangkan

Sebarkan artikel ini
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM RI Todotua Pasaribu bersama Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal usai menghadiri Rapat Koordinasi dan Sinergitas Pembangunan Pabrik Bioetanol yang berlangsung di Ruang VVIP Lounge Bandara Raden Inten II, Lampung Selatan || Foto: Dinas Kominfotik Provinsi Lampung
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM RI Todotua Pasaribu bersama Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal usai menghadiri Rapat Koordinasi dan Sinergitas Pembangunan Pabrik Bioetanol yang berlangsung di Ruang VVIP Lounge Bandara Raden Inten II, Lampung Selatan || Foto: Dinas Kominfotik Provinsi Lampung

Meski demikian, ia menilai peningkatan produksi pertanian harus dibarengi dengan pembangunan industri pengolahan agar komoditas yang dihasilkan tidak hanya dijual sebagai bahan mentah.

“Dengan produksi ubi kayu yang mencapai sekitar 7,5 juta ton per tahun, Lampung memiliki potensi besar untuk menjadi pemasok utama bahan baku bioetanol nasional. Kehadiran industri bioetanol akan menciptakan pasar baru bagi petani, menjaga stabilitas harga, serta meningkatkan nilai tambah hasil pertanian Lampung,” ujar Gubernur.

Ia juga menambahkan bahwa Lampung memiliki potensi energi baru terbarukan yang sangat besar, mulai dari tenaga surya, panas bumi, biomassa hingga bioenergi yang berasal dari limbah pertanian dan industri. Potensi tersebut menjadi modal penting dalam mendukung agenda transisi energi nasional.

Dari sisi industri, CEO PNRE John Anis menjelaskan bahwa pengembangan bioetanol di Lampung dilakukan melalui kolaborasi dengan Toyota Tsusho Corporation dan Green Earth Institute (GEI) Jepang.

Menurutnya, Lampung memiliki posisi strategis karena didukung ketersediaan bahan baku yang melimpah, terutama singkong yang selama ini menjadi komoditas unggulan daerah.

John mengungkapkan bahwa pengembangan bioetanol tidak hanya memanfaatkan molases dan singkong sebagai bahan baku bioetanol generasi pertama, tetapi juga memanfaatkan biomassa sorgum dan limbah perkebunan sawit sebagai bahan baku bioetanol generasi kedua.

“Salah satu fokus kami adalah mengembangkan teknologi yang mampu mengubah limbah pertanian menjadi energi bernilai tinggi sekaligus menciptakan ekonomi sirkular yang berkelanjutan,” ujarnya.

PNRE saat ini tengah mempersiapkan pembangunan pilot plant bioetanol generasi kedua yang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2027. Selain itu, perusahaan juga mengkaji reaktivasi fasilitas bioetanol eksisting dengan kapasitas produksi sekitar 60 ribu kiloliter per tahun.

Kawasan di Kecamatan Tegineneng yang ditinjau dalam kunjungan tersebut diproyeksikan menjadi lokasi pengembangan fasilitas pengolahan bioetanol, sedangkan kawasan di Kecamatan Rejosari direncanakan sebagai pusat pengembangan budidaya sorgum yang akan mendukung pasokan bahan baku industri bioetanol generasi kedua.

Sebagai bagian dari penguatan rantai pasok bahan baku, PNRE juga akan bekerja sama dengan Universitas Lampung untuk melaksanakan uji tanam sorgum seluas 10 hektare sebagai tahap awal pengembangan budidaya di Lampung.

Melalui sinergi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Lampung, dunia usaha, akademisi, dan mitra internasional, proyek bioetanol ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan Lampung sebagai pusat hilirisasi pertanian dan energi terbarukan nasional, sekaligus menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan petani, dan memperkuat ketahanan energi Indonesia.

Sebagai bentuk komitmen bersama terhadap percepatan proyek tersebut, kegiatan diakhiri dengan penandatanganan Join Declaration antara Pemerintah Provinsi Lampung, Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), Toyota Motor Manufacturing Indonesia, dan Toyota Tsusho Indonesia. (Rls/SA)