“Tujuan kami adalah menjadi penyangga ibu kota, satelitnya Kota Bandar Lampung, dan kami terus mengejar kekurangan dari daerah lain,” tambahnya.
Menurutnya, jika bicara sumber daya alam, Pesawaran sudah lengkap dengan laut, gunung, dataran luas, ladang dan lahan pertanian yang luas, daerah pesisir pantai, kepulauan, dan secara geografis tidak jauh dari ibu kota Provinsi Lampung, yang menjadi keunggulan tersendiri.
Ia bersama jajarannya selalu mengikuti perencanaan tata ruang dan tidak ingin Pesawaran hanya menjadi kabupaten biasa.
“Saya dan jajaran tidak mau 20-30 tahun ke depan, Pesawaran hanya sekadar nama, hanya kabupaten biasa. Maka seluruh perencanaan pondasi pembangunan jangka panjang terus kami galakkan walaupun kami paham provinsi juga punya prioritas pembangunan,” paparnya.
Dirinya ingin pembangunan yang dilaksanakan berlandaskan pemerataan agar manfaatnya terasa bagi seluruh masyarakat di Bumi Andan Jejama.
“Di Pesawaran saya yakinkan membangun tidak dengan ego. Mungkin ada beberapa pandangan masyarakat bahwa Pesawaran tidak membangun sesuatu yang ikonik. Jika mau, saya bisa langsung buat stadion berkapasitas 15 ribu, tapi apakah itu bermanfaat untuk Way Khilau, Punduh Pedada, Padang Cermin, Way Ratai, Kedondong, untuk orang yang berada di pelosok Sumber Jaya dan Legundi?” tandasnya.
Sementara itu, Gubernur Lampung yang diwakili Perwakilan Bappeda Provinsi Lampung, Decky Ferdiansyah, berpesan bahwa masyarakat Lampung bersama kabupaten/kota se-Provinsi Lampung harus bisa menjadi bagian dalam pembangunan Indonesia, karena Indonesia dicanangkan menjadi negara maju dan sejajar dengan negara maju lainnya dengan semangat Indonesia Emas 2045. Dirinya berharap pada bulan Agustus 2024, RPJPD Kabupaten sudah bisa disusun dan menjadi pedoman bagi kepala daerah terpilih.











