Wagub juga menyampaikan bahwa kader PMII hadir dalam setiap konteks dan realitas masyarakat, sehingga diharapkan kader PMII mampu beradaptasi dengan setiap perkembangan zaman ke depan.
“PMII ini hadir dalam setiap konteks, hadir dalam setiap realitas perubahan, realitas pengembangan yang ada di seluruh masyarakat. Sehingga seluruh program kaderisasi ini di dalam pengembangannya, di dalam perubahan kita juga tetap dan terus menyesuaikan diri,” tuturnya.
Wagub juga menekankan pentingnya dua karakter utama yang harus dimiliki kader PMII, yakni disiplin intelektual dan disiplin moral.
“Pertama, PMII harus memiliki karakter intelektual, karakter gagasan karakter ide dan pikiran. Ini adalah menjadi pondasi yang paling kuat untuk existing PMII karena hari ini organisasi pergerakan tanpa adanya intelektual, tanpa adanya gagasan ide maka hanya tinggal gerakan-gerakan LSM yang menjadi sampah masyarakat,” ucapnya.
“Selain disiplin intelektualisme, kita juga harus memiliki disiplin moral dan ini salah satu juga yang menjadi pondasi kita tetap eksis di dalam berbagai perubahan dan juga tantangan zaman,” tegasnya, meneruskan.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Desa, Desa Tertinggal, dan Desa Tertentu Kemenko PMK, Abdul Haris, dalam arahannya menyampaikan bahwa PMII memiliki peran strategis sebagai jembatan antara dunia kampus dan masyarakat.
“PMII harus mampu menjadi jembatan antara kampus dan masyarakat, antara ide gagasan dan juga tindakan. Disinilah peran kader PMII dibutuhkan untuk mengisi ruang-ruang kosong, ini adalah tantangan bagi PMII kedepan,” ucapnya.
Abdul haris berharap kaderisasi ini akan melahirkan agen perubahan yang strategis dan berdampak terhadap Indonesia kedepan.
“Kami berharap pelatihan kader nasional ini sebagai ruang kaderisasi tertinggi dalam PMII diharapkan membentuk kader-kader yang menjadi agent of change sekaligus strategis dan penggerak sosial,” harapnya. (Rls/SA)











