“Tujuan kegiatan ini adalah mengembangkan potensi atlet renang usia dini hingga remaja, serta menjadi wadah menyalurkan bakat anak-anak,” katanya.
Meiry berharap kejuaraan ini bisa menjadi ajang evaluasi pembinaan, sekaligus bekal pengalaman bagi calon atlet profesional Lampung. “Kami ingin mereka siap bertanding di level nasional bahkan internasional,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pengprov Akuatik Lampung, Ade Utami Ibnu, menilai ekosistem olahraga akuatik di Lampung sudah semakin hidup.
“Dulu sulit menyelenggarakan kejuaraan, bahkan pengurus nombok. Sekarang hampir setiap bulan ada turnamen. Klub renang juga tumbuh karena banyak orang tua menyadari pentingnya olahraga ini,” kata Ade.
Ia mencontohkan, pada Pekan Olahraga Wilayah (Porwil) di Sumatra, separuh dari 13 emas yang diraih Lampung disumbangkan oleh cabang renang. “Dari 13 emas, 7 berasal dari renang, ditambah 13 perak dan 3 perunggu. Ini bukti renang Lampung punya potensi besar,” ujarnya.
Meski begitu, Ade menegaskan keterbatasan sarana masih menjadi kendala. “Kolam renang kita sudah 45 tahun. Ada tambahan kolam 25 meter, tapi hanya untuk latihan ringan. Kami berharap ada kolam renang prestasi khusus untuk atlet,” katanya.
Komitmen pemerintah membangun fasilitas baru diharapkan menjawab kebutuhan tersebut. Jika terwujud, Lampung berpeluang besar menjadikan olahraga akuatik sebagai salah satu lumbung prestasi di tingkat nasional.
Bagi masyarakat, fasilitas itu tak hanya mendukung atlet, tetapi juga menjadi ruang pembinaan olahraga sejak usia dini. (Rls/SA)











