“Memang sudah menjadi tradisi warga di sini. Biasanya setiap tahun dilakukan dua kali, pertama jelang ‘Suro’ atau 1 Muharam sama jelang bulan Ramadan,” jelasnya.
Tradisi Punggahan dilakukan dengan mengadakan acara doa bersama keluarga, kerabat, dan tetangga.
Uniknya, para warga yang datang masing-masing membawa ‘nasi berkat’ yang dikumpulkan untuk turut didoakan sembari mengucap rasa syukur atas datangnya bulan Muharam.
Setelah doa bersama selesai, barulah semua makanan yang terkumpul dibagikan kembali kepada masyarakat yang hadir.
Dengan demikian, tradisi ini merupakan sarana silaturami, bersedekah, dan bentuk syukur akan datangnya bulan Muharam.
Hingga saat ini, tradisi Punggahan masih dilakukan oleh umat Islam di berbagai daerah di Indonesia, seperti Jawa, Sumatra, dan Sulawesi.
Oleh karena itu, meskipun saat ini zaman sudah menjadi modern dan serba digital kebudayaan tradisi harus tetap dijaga dan dilestarikan demi penerus anak bangsa, sebab kebudayaan dan tradisilah yang menjadi identitas bagi kita semua. (SA)











