SNI 8840-2:2020 dirumuskan untuk melengkapi panduan penerapan sistem peringatan dini bencana di kawasan rawan tsunami. Standar ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pelaksanaan peningkatan pengetahuan risiko tsunami, diseminasi dan komunikasi risiko tsunami, pemantauan dan diseminasi peringatan dini, dan kemampuan respon dalam menghadapi bencana tsunami.
Implementasi layanan peringatan dini ini sejalan dengan Kerangka Sendai 2015-2030 Prioritas Nomor 4 yaitu “Meningkatkan kesiapsiagaan untuk respon yang efektif, dan membangun kembali yang lebih baik dalam pemulihan rehabilitasi dan rekonstruksi”.
“Prioritas keempat, menekankan pada peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dalam merespon peristiwa bencana secara efektif, dengan mengimplementasikan dan meningkatkan layanan diseminasi informasi dan peringatan dini bencana tsunami pada tingkat lokal maupun nasional,” papar Hendro.
Sebelum ISO 22328-3 ditetapkan, tahun-tahun sebelumnya Indonesia juga melalui Komite Teknis 13-08 telah mengusulkan serta menjadi Project Leader untuk 3 standar ISO lainnya, yaitu:
1.ISO 22327:2018, Security and resilience Emergency management Guidelines for implementation of a community-based landslide early warning system;
2.ISO 22328-1:2020, Security and resilience Emergency management Part 1: General guidelines for the implementation of a community-based disaster early warning system;
3.ISO/DIS 22328-2, Security and resilience Emergency management Part 2: Guidelines for the implementation of a community-based early warning system for landslides.
Dengan mengusulkan draft standar internasional, maka secara langsung Indonesia juga ditunjuk sebagai Project Leader. “Mulai dari tahun 2015, ISO telah menunjuk Prof. Faisal Fathani selaku Project Leader dan Convenor dari ISO/TC 292/SC 1/WG 1 sampai akhir tahun 2025,” tutur Hendro.
Prof. Faisal Fathani merupakan salah satu pakar kebencanaan Indonesia yang juga penemu sistem peringatan bencana sedimen dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Saat ini, kaa Hendro, Indonesia juga sedang mengusulkan perubahan standar ISO lainnya, dan masih di tahap draft standar internasional (DIS) yaitu ISO/DIS 22328-2 Security and resilience — Emergency management — Part 2: Guidelines for the implementation of a community-based landslide early warning system.
Capaian ini merupakan kontribusi Indonesia terhadap dunia internasional yang dihasilkan berkat sinergi dan kolaborasi yang solid antara BSN, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan UGM serta pemangku kepentingan utama lainnya dalam mengusung SNI menjadi Standar Internasional di forum ISO.
“Ditetapkannya SNI kebencanaan menjadi standar ISO menjadi bukti, sekaligus dapat dijadikan sebagai momentum bagi Indonesia untuk semakin meningkatkan kontribusi dan kemampuannya dalam penyusunan dan pengembangan standar internasional sehingga kepentingan Indonesia terutama terkait kebencanaan dapat terwakili,” katanya.
“Selain itu, dapat mengurangi dampak korban jiwa dan harta benda akibat terjadinya bencana. Tidak hanya untuk Indonesia yang terkenal sebagai wilayah rawan aneka kebencanaan tetapi juga bagi dunia secara keseluruhan,” pungkas Hendro, mengakhiri. (Rls/SA)











