5W1HIndonesia.id, Pesisir Barat – Memasuki H+4 lebaran 1443 H/2022 M, warga Pekon Penengahan, Kecamatan Karya Penggawa, Kabupaten Pesisir Barat melaksanakan tradisi ‘Ngejalang Balak’.
‘Ngejalang Balak’ merupakan tradisi turun-temurun warga asli Lampung pesisir di pekon setempat yang digelar setiap memasuki H+4 lebaran.
Sempat dilaksanakan terbatas selama 2 tahun terakhir akibat pandemi Covid-19, kegiatan tradisi hari ini sangat antusias diikuti oleh warga setempat.
Dalam tradisi tersebut, baik warga asli maupun pendatang berkumpul bersama-sama dalam satu tempat untuk melaksanakan makan bersama yang sudah disiapkan oleh ibu-ibu di pekon setempat.
Kegiatan makan bersama oleh para bapak-bapak tersebut dilakukan dua tahap. Tahap pertama, makan bersama dengan menu makanan ringan atau akrab disebut ‘buak tumbai’ seperti buah, ‘buak tat’, keripik pisang, dan lainnya.
Uniknya, jika sisa ‘buak’ atau disebut ‘tedda’ dalam sajian tersebut wajib dibawa pulang oleh para bapak-bapak yang hadir pada tradisi tersebut.
Setelah pulang membawa ‘buak’ tersebut, para bapak-bapak kembali ke tempat berkumpul untuk melaksanakan tahap kedua makan bersama.
Untuk tahap kedua, menu makanan yang disajikan adalah makan besar mulai dari nasi dengan menu lauk pauk lengkap mulai ayam santan, ikan goreng dan lainnya.
Sebelum menyantap menu makanan yang disajikan, warga melaksanakan doa bersama memohon keselamatan dunia dan akhirat dan dihindarkan dari musibah.
Tokoh Masyarakat setempat, H. Zainuddin menjelaskan bahwa ‘Ngejalang Balak’ merupakan tradisi warga pekon setempat yang dilaksanakan setiap 4 Syawal lebaran.
“Makanya dilaksanakan lah pada hari ini bertepatan 4 Syawal lebaran 1443 Hijriah,” ungkap H. Zainuddin, Kamis (5/5/2022).
Menurutnya, jumlah warga yang berkumpul melaksanakan tradisi ini kurang lebih 1000 orang dari 4 kampung asal yaitu Kampung Batin, Kampung Berak, Kampung Sukajama dan Kampung Kuta Besi.
Tujuannya dilaksanakan tradisi ‘Ngejalang Balak’ ini adalah untuk berdoa dan meminta kebaikan berupa keselamatan dunia dan akhirat dari Allah SWT.
Ia menerangkan bahwa kegiatan dalam tradisi ini yaitu makan bersama dan berdoa. Makan bersama terbagi dalam dua tahap.
Tahap pertama, makan makanan ringan seperti roti dan lainnya. Sedangkan tahap dua, makan besar berupa hidangan lauk dan nasi.
“Nah, untuk makanan kue kalau tidak habis harus bawa pulang. Karena itu tandanya kalau gak bawa berarti tidak ikut ke sana,” paparnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan tradisi ‘Ngejalang Balak’ selama 2 tahun terakhir sempat dilaksanakan secara terbatas mengingat pandemi Covid-19.
“Karena tahun ini sepertinya sudah aman dari pandemi, maka tradisi ini dilakukan seperti biasanya secara penuh,” pungkasnya. (SA)











