Sementara itu, Ari Pahala Hutabarat mengatakan bahwa Pilgrim #2 merupakan upaya untuk menampilkan sebuah problem universal, problem primordial setiap manusia, setiap suku, setiap bangsa yang ada di muka bumi ini.
“Yang terus menerus menjadi pertanyaan kita semua, pertanyaan eksistensial tentang diri dan tuhannya, dan mengajak kita semua berefleksi, mempertanyakan makna dan kehendak untuk menemukan sumber hidup kita sebagai manusia,” paparnya.
Ia menuturkan bahwa dalam pertunjukkan ini terhampar beberapa fragmen perjalanan sekelompok orang yang tidak tahu kapan akan sampai.
“Tarik ulur antara mencari dan menemukan, kehilangan dan mendapatkan, kembali dan melanjutkan perjalanan, antara putus asa dan kehendak bertahan membuat sekelompok orang ini dihadapkan pada situasi kritis-ambang, baik secara fisikal maupun batin,” bebernya.
Ia juga menambahkan bahwa Pilgrim #2 diharapkan mampu memberi jarak untuk sejenak memasuki dada masing-masing, menyapa diri masing-masing, di tengah sesaknya rutinitas keseharian yang kian hari kian banal.
“Semoga pertunjukkan ini bisa menjadi oase bagi kita semua untuk kembali merenungkan diri kita. Bahwa ada kenyataan atau kebutuhan lain yang juga harus kita perhatikan di luar kenyataan ekonomi, sosial, dan politik,” pungkasnya. (Rls/SA)





