Langkah tersebut memang tidak efektif namun paling tidak ini memberikan shock therapy kepada mereka bahwa apa yang dilakukan itu tidak dikehendaki oleh warga masyarakat pada umumnya khususnya Pemkot Bandarlampung.
“Perlu kita ketahui ini fenomena tahunan. Biasanya lebih banyak jumlahnya dan intensitas lebih tinggi ketika di bulan suci Ramadan,” katanya.
Menurutnya, mereka menganggap bahwa bulan suci Ramadan ini adalah dapat mendatangkan berkah yang banyak.
Dilatarbelakangi Persoalan Ekonomi
Kepala Satpol PP Bandarlampung, Suhardi Syamsi menyatakan bahwa yang melatar belakangi munculnya fenomena manusia gerobak di bulan Ramadan adalah persoalan ekonomi.
“Yang melatar belakangi ini adalah persoalan ekonomi. Gak mungkin orang banyak uang akan jadi pengemis,” ungkapnya, Jumat (1/5/2020).
Namun karena para manusia gerobak tersebut terdesak dan bisa juga diakibatkan pengaruh dari Covid-19 dalam artian orang dihimbau untuk diam di rumah.
“Sedangkan di rumah kan mau makan, minum dan lainnya. Tapi tidak ada pemasukan,” terangnya.
Kemudian, perihal pemutusan hubungan kerja (PHK) dan terjadi dirumahkan dalam waktu tidak tertentu menjadi faktornya.
“Sehingga ini akan mempengaruhi dari pada situasi itu,” pungkasnya. (SA)










