Pertumbuhan tersebut didorong peningkatan produksi listrik sebesar 8,43 persen dan penjualan listrik sebesar 13,14 persen. Sektor Perdagangan Besar dan Eceran tumbuh 7,98 persen, sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekspor-impor, kinerja industri, serta konsumsi rumah tangga.
Sementara sektor Industri Pengolahan tumbuh 6,99 persen, antara lain didorong peningkatan produksi industri makanan, seperti penggilingan padi, gula, dan tapioka.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi salah satu penopang utama perekonomian Lampung dengan kontribusi sekitar 54,94 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Konsumsi rumah tangga juga memiliki pangsa sekitar 61,08 persen dalam struktur perekonomian.
Selain itu, ekspor memiliki pangsa sekitar 53,77 persen dengan kontribusi terhadap pertumbuhan sekitar 41,02 persen, sedangkan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi memiliki pangsa sekitar 29,58 persen dan memberikan kontribusi sekitar 18 persen.
Menariknya, konsumsi pemerintah tumbuh paling tinggi sebesar 12,80 persen, didorong realisasi berbagai program strategis pemerintah.
Pertumbuhan ekonomi bukan sekadar angka PDRB. Bagi masyarakat, pertumbuhan menunjukkan meningkatnya aktivitas produksi, perdagangan, konsumsi, dan investasi.
Jika pertumbuhan mampu dipertahankan dan semakin inklusif, masyarakat berpeluang memperoleh lebih banyak lapangan pekerjaan, kesempatan usaha, peningkatan pendapatan, serta pasar yang lebih luas bagi produk lokal dan UMKM.
Karena itu, tantangan Lampung ke depan adalah memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi secara statistik, tetapi juga semakin terasa dalam kehidupan masyarakat.
“Pertumbuhan ekonomi harus kita jaga dan terus dorong agar memberikan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat Lampung,” tandas Ahmadriswan. (Rls/SA)











