5W1HIndonesia.id, Lampung Selatan – Presiden Republik Indonesia (RI) Joko Widodo mengatakan, inklusi pada bidang keuangan harus dapat memberikan akses yang lebih luas untuk masyarakat menengah ke bawah.
Dengan demikian, inklusi keuangan dapat menjadi solusi bagi persoalan ketimpangan sosial.
Inklusi keuangan juga harus memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat, khususnya masyarakat lapisan menengah ke bawah tidak terkecuali di Provinsi Lampung.
Hal itu seperti terlihat di Desa Cintamulya, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel), Provinsi Lampung, yang saat ini sudah menjadi Desa Inklusi sekaligus Desa yang berhasil menjadi pilot project dalam program Smart Village.
Kemajuan inovasi keuangan digital tampak terlihat di desa ini mulai dari layanan keuangan seperti transfer, pengajuan pembukaan rekening, pemberian kredit pembiayaan atau KUR, pembayaran tagihan online, pulsa telepon/kuota/listrik dan terbaru adanya fasilitas pembayaran pajak kendaraan bermotor.
“Tentu Desa Inklusi keuangan adalah salah satu program dari Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Provinsi Lampung,” tutur Bambang Hermanto, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Lampung dalam Acara Kunjungan OJK Provinsi Lampung bersama Media ke Desa Cintamulya, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lampung Selatan dengan tema “Desa Inklusi Mendorong Perkembangan Perekonomian Desa” pada Selasa (30/11/2021).
“Desa Inklusi Keuangan ini diharapkan bisa hadir di seluruh desa-desa yang ada di Provinsi Lampung,” sambung Bambang.
Menurutnya, hal yang paling sederhana apakah desa ini bisa sebagai Desa Inklusi Keuangan adalah minimal ada Agen Laku Pandai atau Agen Layangan Keuangan.
“Dari kehadirannya ini masyarakat bisa melakukan transaksi apapun terkait keuangan perbankan,” tuturnya.
Bahkan, agen ini mungkin akan lebih unggul dibandingkan dengan operasional kustomer-kustomer bank yang ada di tengah kota.
“Kenapa? karena dengan hadirnya ini mungkin bisa 24 jam karena tetangganya sendiri yang didatangi. Jadi Agen Laku Pandai ini tidak mengikuti jam operasionalnya bank,” jelasnya.
“Misal toko kelontong, jual kartu perdana, jual minyak tanah bahkan Badan Usaha Milik Desa (BumDes) sendiri bisa menjadi Agen Laku Pandai,” terusnya.
Semakin lengkap adalah Desa Inklusi Keuangan yang disertai dengan hadirnya Galeri Investasi pada kegiatan Pasar Modal.
“Jadi masyarakat dari pada menyimpan uangnya di bawah bantal. Ini ada alternatifnya bisa ke Pasar Modal dengan membeli saham. Dari pada di-investasikan hartanya ke investasi bodong mending di Pasar Modal,” jelas dia.
Lanjut Bambang menuturkan kegiatan seperti ini dilakukan agar masyarakat makin memperoleh edukasi bahwa saat ini sudah banyak lembaga-lembaga investasi keuangan baik di Pasar Modal maupun perbankan yang semakin mudah diakses.
“Kalau untuk Desa Cintamulya sendiri merupakan kerjasama antara Bursa Efek Indonesia (BEI), Desa Cintamulya dan Sekuritas Phintraco,” paparnya.
Desa Inklusi Keuangan, kata Bambang, cita-citanya harus dibuat dengan konsep one stop financial services.
“Jadi di desa semua layanan mengenai keuangan bisa disediakan,” tegas Bambang.
Ia menambahkan bahwa saat ini di Provinsi Lampung sudah ada 12 galeri Investasi. 8 di antaranya ada di Perguruan Tinggi dan 4 sudah tersebar di desa Lampung Selatan dan Pesawaran.
“Dan ke depan kita juga akan mendorong Galeri Edukasi. Nanti akan ada di setiap sekolah untuk bisa dihadirkan. Kita akan mulai dari tingkat SMA seperti di sini mungkin di Madrasah Aliyah (MA),” tandasnya.
Salah satu Agen Laku Pandai di Desa Cintamulya Hartanto, menjelaskan bahwa di desanya memiliki 2 Agen Laku Pandai. Satu dimiliki oleh warga dan satu lagi dimiliki oleh BumDes.
“Awalnya ketika mau buat L-Smart (Agen Laku Pandai Bank Lampung) kita masih terkendala legalitasnya. Tapi Alhamdulillah ada warga yang mau membuat L-Smart karena kebutuhan transaksi,” paparnya.
Menurutnya, ia pun sempat berkomunikasi dengan Kepala Bank Lampung Sidomulyo. “Alhamdulillah kalau gak salah itu sekitar Rp700 juta yang dialokasikan ke kita ada yang dibelikan sapi, buah bengkoang dan usaha lainnya,” jelasnya.
“Jadi hampir merata kemarin. Dan ini ngangsurnya gak jauh-jauh ya ke L-Smart yang punya warga,” tutupnya.
Sedangkan, Solihin, Penggiat Desa Inklusi di Desa Cintamulya mengaku akses untuk pelayanan dari sisi keuangan itu sudah merata dari ATM mini baik BRI atau Agen Laku Pandai sudah banyak.
Berdasarkan pantauan di lapangan, beberapa kegiatan usaha rumahan di desa ini yang sudah berjalan dengan hadirnya Agen Laku Pandai tersebut yaitu Sale Pisang Cavendish dan Masker Pati Bengkoang.
Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Cintamulya, Dwi Haryani mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada bapak Bambang yang telah menaruh perhatian khusus di desa ini.
“Mudah-mudahan ke depannya Desa ini akan menjadi desa yang sejahtera dan mandiri,” harap Dwi.
Tentunya, Desa Cintamulya punya karakteristik desa yang berbeda dibandingkan desa-desa yang lain di Kecamatan Candipuro.
Desa ini boleh dikatakan desa pendidikan dan pesantren. Di desa ini mempunyai 5 lembaga pondok pesantren dan 5 lembaga pendidikan formal setingkat SD, SMP, SMK ataupun MA.
“Disamping desa pendidikan juga terkenal dengan pertaniannya. Hampir 70 persen warga menggantungkan mata pencaharian dengan hasil bertani dan sisanya bergerak UMKM yang saat ini sedang tumbuh dan berkembang terlebih dengan hadirnya program Desa Inklusi ini,” pungkasnya.
Hadir dalam kunjungan kegiatan, Pimpinan PT BPD Lampung KC Kalianda, Malatisno, Kepala Kantor Perwakilan BEI Provinsi Lampung, Hendi Prayogi, perwakilan debitur PT BPD Lampung, dan jajaran perangkat Desa Cintamulya dan OJK Provinsi Lampung. (SA)











