Bandar LampungLampungNasionalPENDIDIKAN

Tiga Juri Nasional FFL 2022 Bagikan Ilmu Perfilman di Kampus IIB Darmajaya

48
×

Tiga Juri Nasional FFL 2022 Bagikan Ilmu Perfilman di Kampus IIB Darmajaya

Sebarkan artikel ini
Tiga juri nasional yaitu, Roufy Nasution (sutradara), Yudi Datau (sinematografer), dan Wawan I Wibowo (Editor) saat menjadi pemateri dalam gelaran Coaching Clinic Festival Film Lampung (FFL) 2022. (Istimewa)

5W1HIndonesia.id, Bandar Lampung – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Darmajaya Computer & Film Club (DCFC) Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya, penyelenggara Festival Film Lampung (FFL) 2022 menggelar Coaching Clinic di Aula Rektorat Lantai III, Gedung Alfian Husin, Jumat (1/7/2022).

Coaching clinic diisi tiga juri nasional yaitu, Roufy Nasution (sutradara), Yudi Datau (sinematografer), dan Wawan I Wibowo (Editor). Coaching diikuti 80 pecinta film di Lampung.

Baca Juga  Kolaborasi Dukung Bisnis Berkelanjutan, PLN Serap Produk Olahan Sampah dari UMKM untuk Bahan Cofiring PLTU Tarahan

Materi pertama disampaikan, Roufy Nasution mengenai tahapan dalam pembuatan film. Pertama, pra-produksi, produksi, dan pasca-produksi.

“Pra-produksi dimulai dari mencari ide, skenario dan lain sebagainya. Intinya lebih kayak persiapan,” bebernya.

Menurut dia, untuk film pendek itu tahap pra-produksi biasanya dilakukan sampai sebulan. Tahap pra-produksi juga terdapat tim development yang tugasnya mencari ide.

Baca Juga  Rapat Gabungan FKD-MPU ke-23, Gubernur Lampung Ajak Bersinergi dan Saling Dukung Program Kerja Pembangunan Daerah

“Sutradara juga tidak bekerja sendiri, tetapi juga berkomunikasi dengan sinematografer dan editor dalam menghasilkan sebuah film,” paparnya.

Terpisah dalam layar virtual, Wawan I Wibowo menjelaskan proses editing sebagai story telling.

“Pekerjaan editor itu absurd. Tugas pertama dari seorang editor mengalirkan skenario. Skenario itu saya anggap ibunya. Sutradara itu saya anggap bapaknya kita,” jelas Wawan.

Baca Juga  4 Tim Tembus Semifinal DSFT 2022, Berikut Daftarnya

Menurut dia, dalam menjalankan tugas juga editor banyak berkomunikasi dengan sutradara. “Kadang-kadang saat produksi itu ada diskusi. Kita lebih cenderung ke arah skenario dulu,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *