“Dengan dukungan Bapak Gubernur dan Bapak Bupati, kami berharap pasar ini berkembang menjadi pusat ekonomi rakyat. Lengkap dengan fasilitas seperti layanan perbankan, apotek, dan minimarket. Sehingga semakin banyak keluarga PKH yang siap graduasi mandiri,” sambung Lilis.
Dalam arahannya, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menyampaikan bahwa Lampung berada pada jalur yang tepat untuk menurunkan kemiskinan secara signifikan.
Saat ini, Lampung memiliki sekitar 900 ribu keluarga miskin, dengan tingkat kemiskinan 8–10 persen dan kemiskinan ekstrem sekitar 80 ribu keluarga.
Gubernur Mirza menjelaskan bahwa Lampung memiliki 1.900 pendamping PKH yang mendampingi 480 ribu KPM.
“Jika satu pendamping bisa menggraduasi 10 keluarga setiap tahun, maka setiap tahun 20 ribu keluarga keluar dari kemiskinan. Dalam lima tahun, itu berarti 100 ribu keluarga atau 300 ribu jiwa. Tahun 2029, tingkat kemiskinan Lampung bisa turun ke bawah 6 persen. Ini sangat mungkin,” tegas Gubernur Mirza.
Data di lapangan bahkan menunjukkan capaian luar biasa. Ibu Siti telah menggraduasi 70 keluarga, Ibu Noni 30 keluarga, dan Pak Hardiyanto 18 keluarga.
“Kalau capaian seperti ini dilakukan serentak, insyaallah 2029 tidak ada lagi kemiskinan ekstrem di Lampung. Pendamping PKH adalah pahlawan. Tombak terdepan pengentasan kemiskinan ada di tangan mereka,” kata Gubernur Mirza.
Gubernur Mirza juga menegaskan bahwa salah satu kebijakan pertamanya sebagai Gubernur adalah menaikkan insentif pendamping PKH. Menjadikan Lampung sebagai provinsi dengan insentif pendamping PKH tertinggi se-Indonesia.
“Memberi insentif Rp 500 ribu per bulan itu masih jauh lebih kecil dibanding manfaat ekonomi yang bisa dihasilkan jika pendamping mampu mengeluarkan puluhan ribu keluarga dari kemiskinan,” ujarnya.











