EKBISLampungLampung Selatan

Refleksi Hari Pahlawan, Suparmin Sukses Wujudkan Ketahanan Pangan di Lampung Selatan Melalui PLN Peduli

34
×

Refleksi Hari Pahlawan, Suparmin Sukses Wujudkan Ketahanan Pangan di Lampung Selatan Melalui PLN Peduli

Sebarkan artikel ini
Darma Saputra, Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Lampung, bersama Suparmin, Ketua Kelompok Tani Tunas Baru didampingi 2 Anggota Kelompok Tani || Foto: PLN UID Lampung
Darma Saputra, Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Lampung, bersama Suparmin, Ketua Kelompok Tani Tunas Baru didampingi 2 Anggota Kelompok Tani || Foto: PLN UID Lampung

5W1HIndonesia.id, Lampung Selatan – Suparmin, Ketua Kelompok Tani Tunas Baru di Desa Sidoharjo, Kecamatan Way Panji, Kabupaten Lampung Selatan, merupakan sosok Pahlawan masa kini yang perjuangannya memperoleh dukungan penuh PLN dalam upaya menjaga ketahanan pangan.

Bersama program Electrifying Agriculture PLN Peduli, Suparmin dan kelompok taninya mampu meningkatkan kesejahteraan petani setempat dan sukses menggandakan hasil panen padi mereka.

Sebelum PLN hadir dengan bantuan sumur bor, Suparmin dan para petani hanya dapat memanen padi satu kali setahun, dengan biaya operasional tinggi akibat penggunaan genset untuk menyuplai air ke sawah mereka.

Baca Juga  Dukung Pelestarian Lingkungan, PLN Tanam 4.000 Mangrove dan Bangun Fasilitas Ekowisata Mangrove

Namun, berkat bantuan sumur bor dari PLN Peduli yang diberikan sekitar tiga tahun lalu, kini mereka dapat memanen padi dua kali dalam setahun.

“Alhamdulillah, sebelum ada sumur bor dari PLN Peduli, kami hanya bisa panen satu kali setahun. Namun setelah mendapat bantuan sumur bor, kami dapat panen dua kali setahun,” beber Suparmin dengan bangga.

Baca Juga  Dukung Smart Farming, PLN dan Pemkab Lamsel Bersinergi Dorong Ketahanan Pangan Berbasis Energi

Suparmin menambahkan, sebelum adanya pompa listrik dari PLN Peduli, para petani di Desa Sidoharjo mengandalkan genset untuk memompa air ke sawah, dengan biaya operasional yang cukup besar.

Untuk memenuhih kebutuhan air di satu hektare sawah, Suparmin dan para petani lainnya harus menghidupkan genset selama sekitar 10 jam dengan biaya bahan bakar mencapai Rp 80.000 per jam. Setiap kali menyuplai air, mereka membutuhkan biaya sekitar Rp 800.000 per hektare.

Baca Juga  Turut Cerdaskan Anak Bangsa, PLN Peduli Beri Fasilitas Pendidikan di Provinsi Lampung

“Setidaknya pengisian air dilakukan sebanyak tiga kali dari masa tanam hingga panen. Sehingga total biaya operasional tersebut mencapai Rp 2.400.000 per hektar dalam satu musim tanam,” ujar Suparmin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *