Namun diterangkannya, setelah menggunakan pompa listrik dari PLN, biaya tersebut turun drastis menjadi sekitar Rp 250.000 per hektare. Bagi petani seperti Suparmin yang memiliki rata-rata tiga hektare sawah, ini berarti penghematan yang signifikan, sekaligus peningkatan keuntungan bagi mereka.
“Pompa listrik dari PLN Peduli sangat membantu kami dalam menurunkan biaya operasional. Sebelumnya, saat menggunakan genset, kami harus mengeluarkan biaya besar untuk bahan bakar,” paparnya.
“Sekarang, dengan biaya listrik jauh lebih hemat. Kami sangat berterima kasih atas uluran tangan PLN ke kami,” tambah Suparmin.
Keberhasilan ini juga berdampak pada produksi padi di Desa Sidoharjo. Saat panen raya, Suparmin dan kelompok taninya mampu menghasilkan rata-rata 8 hingga 9 ton padi per hektar.
Ini adalah pencapaian yang membanggakan dan menjadi bukti bahwa dengan bantuan yang tepat seperti halnya yang dilakukan PLN, ketahanan pangan dan kesejahteraan petani dapat terwujud.
Sementara, General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Lampung Muhammad Joharifin menyatakan bahwa, program Electrifying Agriculture seperti yang diinisiasi PLN Peduli sebagai komitmen PLN mendukung masyarakat desa dalam meningkatkan kesejahteraan dan ketahanan pangan, khususnya di wilayah-wilayah yang membutuhkan.
Menurut Joharifin, dukungan PLN tersebut tak hanya membantu petani dalam mengatasi tantangan operasional, tetapi juga membuka jalan bagi petani di Desa Sidoharjo untuk mencapai potensi maksimal mereka dalam sektor pertanian.
“Dengan langkah ini, PLN tak hanya menerangi desa-desa di pelosok, tetapi juga menjadi mitra masyarakat dalam mewujudkan kesejahteraan dan ketahanan pangan yang berkelanjutan di Indonesia,” tandasnya. (Rls/SA)











